EraNusantara – Sektor manufaktur Indonesia, yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian, kini menghadapi tantangan serius. Menanggapi kondisi ini, Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) menyerukan penguatan fundamental industri dalam negeri. HIPMI menekankan pentingnya menjadikan manufaktur sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan permintaan domestik, daya saing global, dan perluasan rantai pasok lokal.
Ketua Umum BPP HIPMI, Ade Jona Prasetyo, menjelaskan bahwa peran sektor manufaktur sangat vital karena efek bergandanya (multiplier effect) yang masif. Peningkatan aktivitas produksi di sektor ini tidak hanya menguntungkan industri skala besar, tetapi juga merembet ke berbagai elemen ekonomi lain, mulai dari pemasok bahan baku, penyedia jasa logistik, distributor, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor industri, hingga penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.

"Momentum pertumbuhan ekonomi dan arus investasi yang telah kita jaga dengan baik harus terus kita salurkan ke sektor produksi," tegas Ade Jona dalam keterangan resminya baru-baru ini. Ia menambahkan, "Jika permintaan pasar menguat dan industri kita semakin kompetitif, kapasitas produksi akan terpacu, dan otomatis, lebih banyak lapangan kerja akan tercipta."
Namun, di tengah optimisme tersebut, sektor manufaktur nasional justru menunjukkan sinyal pelemahan. Data terbaru menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 49,8 pada Agustus 2026, sedikit menurun dari 50,2 pada Juli. Angka di bawah 50 ini mengindikasikan adanya kontraksi atau perlambatan aktivitas di sektor manufaktur.
Meskipun demikian, Ade Jona optimistis bahwa Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kokoh untuk mendorong kembali ekspansi manufaktur. Oleh karena itu, HIPMI mendesak agar penguatan pasar domestik diimbangi dengan peningkatan daya saing industri. Hal ini mencakup efisiensi biaya produksi, ketersediaan energi yang stabil, perbaikan sistem logistik, kemudahan akses pembiayaan, jaminan ketersediaan bahan baku, peningkatan produktivitas, serta kepastian berusaha yang lebih baik.
"Kita harus menjaga keseimbangan antara kekuatan pasar dan daya saing," ujar Ade Jona. "Industri memerlukan permintaan yang solid, namun di saat yang sama, biaya produksi di Indonesia juga harus semakin kompetitif. Jika kedua aspek ini dapat berjalan harmonis, kami yakin sektor manufaktur Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang luar biasa."
Selain itu, Ade Jona juga menekankan pentingnya penguatan rantai pasok domestik. Setiap investasi industri yang masuk ke Indonesia diharapkan dapat semakin mengintegrasikan diri dengan pengusaha lokal, termasuk para pengusaha muda dan pengusaha di daerah, yang berpotensi besar menjadi pemasok atau mitra strategis bagi industri-industri besar.
"Setiap investasi industri seharusnya mampu menumbuhkan ekosistem ekonomi yang kuat di sekitarnya," jelasnya. "Kami berharap semakin banyak kebutuhan industri, mulai dari bahan baku, komponen, jasa pendukung, hingga logistik, dapat dipenuhi dari dalam negeri. Ini adalah peluang emas bagi pengusaha kita untuk berkembang dan meningkatkan kapabilitas."
Ade Jona menegaskan bahwa keterlibatan pengusaha lokal bukan berarti memberikan perlakuan istimewa tanpa mempertimbangkan kompetensi. Sebaliknya, tantangan bersama adalah bagaimana mempersiapkan perusahaan-perusahaan dalam negeri agar mampu memenuhi standar kualitas, kapasitas produksi, sertifikasi, tata kelola yang baik, serta menawarkan harga yang kompetitif, sehingga mereka layak dan mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri besar.
"Target utama kita bukan hanya sekadar menambah jumlah pabrik. Kita ingin membangun ekosistem industri yang lebih dalam dan terintegrasi di Indonesia," pungkas Ade Jona. "Dengan pertumbuhan investasi, perkembangan industri, peningkatan kelas pengusaha dalam negeri, dan penambahan lapangan kerja, rantai ekonomi ini akan semakin kokoh, dan dampaknya terhadap perekonomian nasional akan jauh lebih signifikan."
Editor: Rockdisc