EraNusantara – Gorontalo kini menorehkan sejarah baru dalam kancah ekspor internasional. Sebanyak 26 ton kelapa parut olahan (desiccated coconut), dengan nilai fantastis mencapai Rp 1,2 miliar, berhasil menembus pasar ketat Uni Eropa, tepatnya Jerman. Pelepasan komoditas unggulan ini dilakukan melalui Satuan Pelayanan Bandara Djalaluddin, Karantina Gorontalo, menandai babak baru transformasi ekonomi daerah dari pengiriman bahan mentah menjadi produk olahan bernilai tambah tinggi.
Pelepasan ekspor bersejarah ini dipimpin langsung oleh Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding. Ia menegaskan bahwa momen ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan bukti konkret bahwa Gorontalo memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global. "Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa Gorontalo tidak hanya siap menembus pasar dunia, tetapi juga berhasil memperkuat kedaulatan ekonominya dengan inovasi dan hilirisasi," ujar Abdul Kadir Karding di Satpel Bandara Djalaluddin, Karantina Gorontalo, dalam keterangan tertulis yang diterima eranusantara.co pada Selasa (23/6/2026).

Karding menambahkan, pencapaian gemilang ini sejalan dengan visi Asta Cita Presiden yang secara konsisten mendorong kemandirian bangsa melalui program hilirisasi dan industrialisasi. Untuk mendukung agenda strategis ini, Barantin berkomitmen penuh untuk mengubah perannya. "Kami tidak lagi hanya menjadi pengawas lalu lintas komoditas, melainkan bertransformasi menjadi akselerator ekonomi yang proaktif. Kami siap membentangkan ‘karpet merah’ bagi produk-produk ekspor Indonesia," tegas Karding. Ia menjamin bahwa Barantin akan memberikan pendampingan teknis yang komprehensif agar produk-produk lokal mampu memenuhi standar internasional yang ketat, termasuk persyaratan tinggi dari negara-negara Uni Eropa.
Saat ini, layanan Barantin berfokus pada empat pilar utama sertifikasi: kesehatan, keamanan, pemenuhan mutu, dan ketertelusuran (traceability) produk. Semua pilar ini didukung penuh oleh inspeksi berbasis sains (science-based inspection) serta pemanfaatan teknologi digitalisasi untuk efisiensi dan akurasi.
Selain keberhasilan menembus pasar Jerman, dalam kesempatan yang sama, Barantin juga melepas komoditas unggulan Gorontalo untuk pasar domestik menuju Jakarta. Komoditas tersebut meliputi 25 ton jagung senilai Rp 151 juta dan 16 ton ikan bandeng senilai Rp 224 juta. Secara total, komoditas yang dilepas pada hari itu mencapai 67 ton dengan nilai ekonomi gabungan sebesar Rp 1,575 miliar.
Kepala Karantina Gorontalo, Iswan Hariyanto, menyatakan kebanggaannya atas pencapaian ini. "Keberhasilan kelapa parut menembus pasar Jerman menjadi indikator kuat bahwa mutu produk lokal kita telah diakui secara global. Karantina Gorontalo akan terus memperkuat pengawasan sekaligus memberikan pendampingan intensif kepada para pelaku usaha agar volume ekspor terus meningkat dan meroket," jelas Iswan.
Data dari Barantin menunjukkan bahwa kinerja ekspor Provinsi Gorontalo sepanjang periode Januari hingga Mei 2026 memang menunjukkan tren yang sangat positif. Nilai ekspor daerah ini melonjak hingga Rp 643,72 miliar, atau tumbuh 10,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, dari sisi volume, terjadi lonjakan signifikan sebesar 21,55 persen menjadi 149,50 juta kilogram, dengan frekuensi pengiriman mencapai 477 kali.
Untuk menjaga momentum positif ini, kunjungan kerja Barantin di Gorontalo juga diisi dengan sesi diskusi interaktif bersama para eksportir dan pelaku usaha setempat. Tujuannya adalah untuk menyerap aspirasi mereka, mengidentifikasi tantangan dalam akses pasar global, dan mempercepat layanan sertifikasi yang dibutuhkan.
Acara penting ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi Barantin, Kepala Karantina Sulawesi Selatan, Kepala BPPMHKP Gorontalo, serta perwakilan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean C Gorontalo, menunjukkan sinergi antarlembaga dalam mendukung kemajuan ekspor daerah.
Editor: Rockdisc