EraNusantara – Sebuah gagasan revolusioner untuk menggenjot perekonomian nasional muncul dari Ketua Fraksi PKS MPR RI, Tifatul Sembiring. Ia menyoroti dominasi perhatian pemerintah yang selama ini cenderung terfokus pada kawasan selatan, khususnya Bali. Padahal, menurut Tifatul, wilayah utara Indonesia menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa besar, mulai dari sektor pariwisata, perdagangan, hingga jasa. Konsep "Ekonomi Utara" ini ia sampaikan dalam Lokakarya Akademik Fraksi PKS MPR RI Tahun 2026 bertema "Membedah Potensi Ekonomi Karimun Kepulauan Riau" di Batam, Kepulauan Riau, pada Sabtu (13/6/2026).
Tifatul mengidentifikasi sejumlah daerah strategis yang dapat menjadi tulang punggung Ekonomi Utara, meliputi Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Papua. Keunggulan geografis wilayah-wilayah ini adalah berhadapan langsung dengan pasar global yang dihuni lebih dari 3 miliar jiwa, sebuah potensi pasar yang kolosal.

Secara khusus, Karimun di Kepulauan Riau disorot karena lokasinya yang sangat strategis, berdekatan dengan Selat Malaka. Jalur pelayaran ini merupakan salah satu yang tersibuk di dunia, di mana lebih dari 95% kapal yang berlayar antara Samudra Pasifik dan Atlantik melintasinya.
"Selama ini, Singapura lah yang paling banyak meraup keuntungan dari lalu lintas kapal di Selat Malaka," ungkap Tifatul dalam keterangan tertulisnya, Minggu (14/6/2026). Ia memaparkan, arus peti kemas di Singapura pada tahun 2024 mencapai 41,12 juta TEU, bahkan melonjak hingga 65 juta TEU setelah penutupan Selat Hormuz. "Angka ini jauh melampaui Batu Ampar di Batam yang baru sekitar 797 ribu TEU per tahun. Singapura, meski negaranya kecil, berhasil memaksimalkan jalur strategis ini, sementara kita masih tertinggal," kritiknya.
Tifatul meyakini bahwa dengan pembangunan konektivitas transportasi yang memadai di wilayah Utara, minat wisatawan dan investor akan meningkat drastis. Ia menegaskan, keindahan alam di kawasan ini tak kalah memukau dibandingkan Bali. "Bayangkan, kita punya Danau Toba, Sabang, pantai-pantai eksotis di Aceh seperti Lhoknga, Danau Singkarak, Danau Maninjau, Bunaken, Raja Ampat, hingga pesona Maluku Utara. Semua ini adalah permata yang siap menarik jutaan pengunjung jika aksesnya mudah," paparnya.
Untuk Karimun, Tifatul mendesak agar pengembangan difokuskan pada sektor yang dapat memberikan dampak ekonomi cepat, terutama pariwisata. Ia membandingkan devisa pariwisata Indonesia pada tahun 2024 yang baru mencapai sekitar Rp 64 triliun, jauh di bawah Malaysia yang sudah menyentuh angka Rp 406 triliun. "Ini menunjukkan bahwa pariwisata adalah sektor strategis yang harus digarap serius. Perputaran uang dari belanja wisatawan sangat cepat dan langsung terasa dampaknya," tegasnya.
"Karimun harus fokus pada pariwisata, kuliner, perhotelan, hiburan, transportasi, dan konektivitas. Kunci utamanya adalah bagaimana menarik orang datang, karena di situlah uang akan berputar," jelas Tifatul. Ia menambahkan, Karimun perlu mengembangkan produk unggulan yang dapat dipasarkan secara digital, mulai dari kuliner khas, kawasan wisata menarik, hingga desa-desa wisata yang unik.
Gagasan Tifatul Sembiring disambut baik oleh Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad. Ia menegaskan bahwa posisi geografis Kepri sangat vital bagi pengembangan ekonomi nasional. "Kepri berada di jalur perdagangan internasional, berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, menjadikannya modal penting untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah," ujar Ansar. Ia kembali menekankan peran Selat Malaka sebagai salah satu dari 10 checkpoint ekonomi dunia, yang setiap tahunnya dilewati sekitar 80 ribu kapal dan 70 juta kontainer. "Kepri wajib mampu mengambil porsi manfaat yang lebih besar dari arus perdagangan global ini," tegasnya.
Untuk mewujudkan potensi ini, Kepulauan Riau telah menyiapkan sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang menarik investasi, antara lain:
- KEK Bintan Galang Batang, fokus pada industri pengolahan smelter bauksit.
- KEK Batam Nongsa Digital Park, sebagai pusat ekonomi digital dan jembatan IT antara Indonesia dan Singapura.
- KEK Batam Aero Technic, didedikasikan untuk layanan perawatan dan perbaikan pesawat.
- KEK Tanjung Sauh, untuk produksi, pengolahan, logistik, distribusi, dan energi.
- KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam, yang akan menjadi pusat layanan kesehatan dan pariwisata medis berstandar internasional.
Editor: Rockdisc