EraNusantara – Langkah strategis dalam pengelolaan ekspor komoditas utama Indonesia, khususnya batu bara dan kelapa sawit (CPO), melalui skema yang terintegrasi, diyakini akan menjadi pilar penguat fundamental ekonomi nasional. Kebijakan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi industri, tetapi juga optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang krusial bagi stabilitas keuangan negara.
Menurut data dari PoliEco Digital Insight Institute (PEDAS), sebuah lembaga riset dan analisis media digital, komoditas-komoditas yang menjadi fokus awal tata kelola ekspor strategis ini—meliputi batu bara, minyak kelapa sawit mentah (CPO), dan ferroalloy—secara kolektif menyumbang nilai ekspor fantastis, melebihi US$66 miliar per tahun. Angka ini setara dengan seperempat dari total ekspor Indonesia. Anthony Leong, Direktur PED
