EraNusantara – Sebuah terobosan signifikan telah dicapai Indonesia dalam upaya memperkuat daya saing produk perikanan di kancah global. Negara kita kini resmi memiliki laboratorium (Lab) pengujian kontaminasi radioaktif khusus produk perikanan, yang berlokasi strategis di Cipayung, Jakarta Timur. Lab canggih ini, di bawah naungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bukan hanya yang pertama di Indonesia, melainkan juga yang perdana di seluruh kawasan Asia Tenggara, menandai langkah maju yang monumental bagi industri perikanan nasional.
Menurut Ishartini, Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu KKP), keberadaan Lab Balai Uji Standar Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BUSPM) ini bukan sekadar pelengkap. "Lab kami telah mengantongi akreditasi ISO 17025, sebuah standar internasional yang menjamin kompetensi laboratorium pengujian dan kalibrasi," jelas Ishartini dalam keterangan yang diterima eranusantara.co. Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa lab ini juga telah mendapatkan persetujuan dari BAPETEN (Badan Pengawas Tenaga Nuklir) sebagai otoritas pengawas nuklir nasional, serta yang paling krusial, persetujuan dari US FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat untuk melakukan pengujian beberapa parameter radioaktif penting, termasuk Cesium-137 (Cs-137).

Ishartini menegaskan bahwa pembangunan lab penguji kontaminasi Cs-137 pada produk perikanan ini merupakan langkah strategis KKP. Tujuannya tak lain untuk memperkuat daya saing dan meningkatkan keberterimaan produk perikanan Indonesia, khususnya udang, di pasar internasional, terutama Amerika Serikat. "Lab BUSPM ini merupakan satu-satunya di Indonesia dan memegang predikat yang pertama di Asia Tenggara," ungkapnya bangga, menyoroti keunggulan komparatif yang kini dimiliki Indonesia.
Kemampuan Lab BUSPM tidak hanya terbatas pada uji radioaktif. Ishartini merinci, "Lab ini mampu menguji berbagai parameter mutu dan keamanan pangan, mulai dari bakteri, virus, kimia, logam berat, residu, dan kini telah dilengkapi dengan parameter radionuklida pangan asal ikan." Hasil uji yang dikeluarkan lab ini sangat vital. "Dapat digunakan untuk mengurus Sertifikat Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SMKHP) yang menjadi persyaratan wajib ekspor di beberapa negara dengan standar bebas radioaktif yang ketat, seperti Amerika Serikat," tambahnya, menunjukkan betapa krusialnya peran lab ini dalam membuka pintu pasar global.
Bukti nyata dari dampak positif keberadaan lab ini sudah mulai terlihat. Sejak 31 Oktober 2025 hingga 11 Juni 2026, KKP telah berhasil mengawal pengiriman ekspor udang ke Amerika Serikat sebanyak 4.072 kontainer. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.370 kontainer telah sukses menembus pasar AS dengan total volume mencapai 51.607 ton, yang jika dikonversi bernilai fantastis Rp 8,78 Triliun. Angka ini menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai pemain utama di industri perikanan global, dengan dukungan infrastruktur pengujian yang tak tertandingi di kawasan.
Editor: Rockdisc