EraNusantara – Sebuah laporan terbaru dari Bank Dunia telah membunyikan alarm keras bagi kondisi ekonomi Indonesia, khususnya terkait dengan nasib kelas menengah. Meskipun pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda perbaikan dalam jumlah, kualitas pekerjaan yang tersedia justru menjadi sorotan utama, mengindikasikan adanya masalah struktural yang mendalam yang perlu segera diatasi.
Dalam laporan "Indonesia Economic Prospects" edisi Juni 2026, Bank Dunia menyoroti sebuah paradoks yang terjadi. Di satu sisi, Indonesia berhasil menciptakan sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru antara Agustus 2024 hingga 2025, dan tingkat pengangguran sedikit menurun menjadi 4,9%. Namun, di sisi lain, hampir separuh dari pekerjaan yang baru muncul ini justru berasal dari sektor-sektor dengan tingkat produktivitas rendah, yang menawarkan upah minim dan prospek karier terbatas.

"Hampir separuh dari lapangan kerja baru tersebut berasal dari sektor-sektor dengan tingkat produktivitas lebih rendah seperti pertanian dan akomodasi/jasa makanan," demikian kutipan dari laporan Bank Dunia yang diperoleh eranusantara.co pada Jumat (12/6/2026). Ironisnya, sektor-sektor yang membutuhkan keterampilan lebih tinggi dan berpotensi memberikan upah lebih baik, seperti jasa keuangan, justru mengalami stagnasi atau bahkan kontraksi. Ini menunjukkan ketidakseimbangan yang signifikan dalam dinamika penciptaan lapangan kerja.
Selain itu, Bank Dunia juga menyoroti fenomena "pengangguran terselubung" atau underemployment, di mana pekerja tidak bekerja sesuai jam yang diharapkan atau tidak memanfaatkan kapasitas penuhnya. Angka ini terus merangkak naik secara bertahap sejak tahun 2022, mencapai 32,7%. Kondisi ini, menurut Bank Dunia, "menunjukkan kelemahan mendasar dari segi kualitas pekerjaan" dan mengindikasikan bahwa banyak pekerja yang sebenarnya ingin bekerja lebih banyak atau di posisi yang lebih baik, namun tidak memiliki kesempatan.
Dampak langsung dari kualitas pekerjaan yang buruk dan ketidakseimbangan struktural ini tercermin pada upah riil. Upah riil untuk pekerja dengan keterampilan menengah dan tinggi dilaporkan telah menurun sekitar 1-2% per tahun sejak 2018, mengikis daya beli dan kesejahteraan mereka.
Puncak dari kekhawatiran ini adalah penurunan drastis proporsi pekerja yang masuk kategori kelas menengah. Dari 14,5% pada tahun 2018, angka tersebut anjlok tajam menjadi sekitar 7% pada tahun 2025. Penurunan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar masyarakat yang sebelumnya berada di kelas menengah kini tergelincir menjadi kelompok yang rentan miskin, atau dalam istilah Bank Dunia, "menuju kelas menengah" yang lebih rapuh dan tidak stabil secara ekonomi.
Penurunan status ekonomi ini, jelas Bank Dunia, disebabkan oleh minimnya ketersediaan lapangan kerja formal dengan gaji yang layak serta terus menurunnya upah riil. "Tren-tren ini menggarisbawahi ketidaksesuaian struktural yang terjadi, di mana sektor perekonomian menciptakan lapangan kerja baru, tetapi jumlah lapangan kerja produktif dan berupah tinggi yang dibutuhkan untuk mendukung mobilitas sosial ke atas dan memperluas kelas menengah masih belum memadai," pungkas laporan tersebut, menyerukan perhatian serius dari para pembuat kebijakan.
Editor: Rockdisc