EraNusantara – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mematok target ambisius untuk merampungkan pembangunan 1.369 unit Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) hingga akhir tahun 2026. Namun, di tengah upaya keras mengejar capaian tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Sakti Wahyu Trenggono secara terbuka mengurai berbagai tantangan signifikan yang membayangi realisasi proyek strategis ini, terutama yang menyasar wilayah-wilayah terpencil dan pulau-pulau terluar Indonesia.
Trenggono membeberkan bahwa salah satu kendala paling krusial adalah aksesibilitas menuju lokasi pembangunan. "Akses untuk menuju ke sini kan setengah mati untuk membawa barang-barang untuk membangunnya," ujar Trenggono dalam sebuah rapat kerja di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Kamis lalu. Ia mencontohkan proyek yang sedang berjalan di Pulau Enggano, Bengkulu. Pulau yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia ini termasuk dalam daftar prioritas penyelesaian 100 kampung nelayan pertama.

Meski dihadapkan pada kesulitan logistik dan geografis, KKP menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pembangunan KNMP di sana. Trenggono berpandangan bahwa mayoritas masyarakat Pulau Enggano berprofesi sebagai nelayan, sehingga pembangunan KNMP diyakini berpotensi besar mendongkrak hasil tangkapan mereka. "(Pulau terkecil) minimal 50 kapal, ada yang 200, ada yang 400. Kapasitas kapalnya 10 GT ke bawah. Sekarang kan mereka dengan seluruh sarana-prasarana yang dikasih itu, mereka akan naik produksinya. Itu dulu tahapannya," jelas Trenggono, menekankan peningkatan kapasitas produksi sebagai tujuan utama.
Selain kondisi geografis yang menantang, diversitas kebutuhan di setiap wilayah juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Trenggono menjelaskan bahwa pihaknya sengaja merancang proyek ini secara tematik agar fasilitas yang diberikan benar-benar relevan dan efektif. "Kan itu tematik. Jadi, ada yang misalnya, oh di sini yang dibutuhkan tuh es, SPBN (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan), sama bengkel kapal misalnya gitu. Terus ada juga yang dia butuh juga harus ada logistiknya gitu. Tapi setidaknya hampir semua," imbuh Trenggono, mengindikasikan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik lokal.
Hingga saat ini, pembangunan 100 KNMP tahap awal hampir rampung. Tercatat, sebanyak 65 lokasi KNMP telah selesai dibangun, sementara 35 lokasi sisanya ditargetkan rampung pada Juni 2026. Secara keseluruhan, Trenggono menargetkan total 1.369 unit KNMP harus sudah berdiri pada akhir tahun 2026.
Salah satu manfaat utama dari pembangunan KNMP ini adalah jaminan akses Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi bagi para nelayan. Trenggono memastikan bahwa skema BBM subsidi untuk para nelayan kecil, khususnya di area kampung nelayan, sejauh ini tetap dipertahankan dan tidak mengalami perubahan.
(rea/ara) – eranusantara.co
Editor: Rockdisc