EraNusantara – Fenomena investasi bodong dengan iming-iming keuntungan fantastis dalam sekejap mata terus menghantui masyarakat, terutama para investor pemula. Menanggapi maraknya kasus penipuan ini, PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) kembali menekankan pentingnya fondasi pengetahuan dan literasi keuangan yang kuat sebelum melangkah ke dunia investasi.
Lanjar Nofi, Wealth Management Business Division Head CIMB Niaga, dengan tegas menyatakan bahwa anggapan investasi sebagai jalan pintas menuju kekayaan adalah sebuah kekeliruan besar. Menurutnya, kekayaan sejati tidak terbangun dari gejolak pasar sesaat, melainkan melalui proses yang konsisten, diversifikasi yang terukur, serta eksekusi strategi yang disiplin.

"Belakangan ini banyak anggapan bahwa investasi itu cara biar cepat kaya, padahal itu salah. Kekayaan tidak dibangun dari volatilitas sesaat, melainkan dirawat perlahan melalui konsistensi waktu, diversifikasi yang terukur, dan eksekusi yang disiplin," ujar Lanjar dalam sebuah sesi edukasi bertajuk ‘Kelas Jurnalisme Inspiratif: Smart Investing, Smarter Reporting’ yang digelar di Ballroom Makna, The Ritz-Carlton Pacific Place.
Untuk membekali para pemula agar menjadi ‘smart investor’ yang cermat dan berdaya, Lanjar membeberkan tiga fondasi utama yang wajib dikuasai:
Pertama, Pahami Kondisi Ekonomi Makro. Investor cerdas harus senantiasa memantau arah pertumbuhan ekonomi dan berbagai indikator makro. Ini krusial agar tidak terburu-buru menanamkan modal di tengah kondisi pasar yang sedang bergejolak tinggi. "Jangan sampai kita berinvestasi saat kondisi ekonomi sedang gonjang-ganjing. Memang ada potensi keuntungan, namun risikonya juga sangat besar," jelas Lanjar, seperti dikutip dari eranusantara.co.
Kedua, Pahami Produk Investasi yang Dipilih. Mengenali karakteristik instrumen investasi adalah kunci. Jangan mudah tergiur oleh promosi imbal hasil instan yang tidak masuk akal atau janji-janji manis yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan. "Jangan karena ada produk investasi yang menjanjikan 100% dalam setahun, seperti yang sempat heboh dan ditangani pihak berwajib, lantas kita langsung berinvestasi. Pahami dulu produknya secara mendalam," tegas Lanjar.
Ketiga, Pahami Profil Risiko Diri Sendiri. Setiap individu memiliki batas toleransi risiko keuangan yang berbeda, apakah cenderung konservatif atau agresif. Profil ini biasanya dipengaruhi oleh faktor usia dan ketersediaan dana. "Kita juga harus paham seberapa besar toleransi risiko kita terhadap keuangan pribadi. Apakah kita tipe konservatif yang menghindari risiko besar, atau agresif yang siap mengambil risiko lebih tinggi demi potensi keuntungan lebih besar?" imbuh Lanjar.
Lebih lanjut, untuk strategi investasi yang lebih aman dan berkelanjutan, Lanjar merekomendasikan pendekatan Dollar Cost Averaging (DCA). Strategi investasi berkala ini dinilai jauh lebih efektif dalam menjaga stabilitas imbal hasil jangka panjang dibandingkan pembelian sekaligus di awal (lump sum). Sebagai ilustrasi, jika investasi reksa dana dilakukan sekaligus dalam setahun dan tumbuh 23,58%, dengan strategi DCA yang dicicil rutin setiap tanggal gajian, pertumbuhan bisa mencapai sekitar 26%. "Memiliki perspektif jangka panjang membuat kita tidur tenang, tetap berinvestasi, dan mendapatkan imbal hasil yang optimal," pungkasnya.
Untuk mempermudah para investor pemula dalam menerapkan strategi ini, CIMB Niaga menyediakan fitur Regular Investment Saving Plan. Melalui fitur ini, investasi dapat dicicil secara otomatis (autodebet) setiap tanggal gajian, kapan saja, dengan modal yang terjangkau.
Melalui berbagai inisiatif edukasi seperti Wealth XPO dan Kelas Jurnalisme Inspiratif, CIMB Niaga berharap masyarakat dan investor pemula semakin percaya diri dalam mengambil keputusan finansial yang cerdas, sehingga terhindar dari bayang-bayang risiko investasi bodong.
Editor: Rockdisc