EraNusantara – Di tengah hiruk pikuk modernisasi dan pesatnya perkembangan ekonomi digital, masih ada sudut-sudut Indonesia yang menantang aksesibilitas, namun menyimpan potensi ekonomi luar biasa. PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM baru-baru ini menorehkan jejak pemberdayaan yang signifikan, menyalurkan pembiayaan kepada tiga perempuan tangguh dari Suku Baduy. Inisiatif ini bukan sekadar penyaluran modal, melainkan sebuah manifestasi komitmen untuk menghadirkan harapan di wilayah yang secara geografis terisolasi.
Saenah, Juni, dan Sarti, ketiganya adalah warga Lebak 2, sebuah dusun yang tersembunyi jauh di dalam kawasan permukiman Suku Baduy. Lokasi mereka hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki, menembus jalur hutan yang lebat dan menantang. Mereka adalah potret nyata masyarakat yang secara tradisional mungkin jauh dari sentuhan layanan keuangan formal, namun memiliki semangat kewirausahaan yang membara. Saenah, misalnya, tak hanya menjalankan usaha jual beli hasil bumi, tetapi juga piawai menganyam tas koja dan menenun kain khas Baduy yang otentik.

Kehadiran PNM Mekaar di tengah mereka bukan tanpa perantara. Ketiganya mengenal program pembiayaan mikro ini justru dari lingkaran terdekat: saudara mereka yang telah lebih dulu menjadi nasabah dan merasakan manfaatnya. Ketika kebutuhan modal datang, terutama pada musim panen, proses pengajuan yang mereka nilai mudah dan tidak berbelit membuat mereka berani mengambil langkah besar: pembiayaan pertama dalam hidup mereka. Saenah menerima Rp 4 juta untuk membeli hasil bumi saat musim panen. Juni, yang mengelola usaha warungan sekaligus jual beli hasil bumi, memperoleh pembiayaan Rp 6 juta. Sementara Sarti, juga untuk memperlancar perputaran modal usaha jual beli hasil bumi, mendapatkan Rp 4 juta.
Bagi Saenah, dampak dari modal tersebut terasa sederhana, namun transformatif dan nyata. "Dengan Mekaar, alhamdulillah itu dapat gitu ya. Barang-barang bisa kebeli. Sudah beli kain, sudah dapet juga buat usaha," tuturnya dalam keterangan tertulis yang diterima eranusantara.co. Kisah ini menggambarkan bagaimana PNM secara konsisten mengoperasikan ratusan unit layanan di berbagai wilayah dengan tantangan geografis serupa. Kehadiran PNM tidak berhenti pada penyaluran pembiayaan semata. Model bisnis PNM Mekaar menggabungkan suntikan modal usaha dengan pendampingan intensif, memastikan nasabah tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk memulai atau memperbesar usaha, tetapi juga memiliki ruang untuk terus belajar dan bertumbuh.
Direktur Utama PNM, Kindari, menegaskan bahwa ukuran keberhasilan perusahaannya melampaui angka pembiayaan yang disalurkan. "Setiap perempuan prasejahtera di Indonesia berhak mendapatkan pembiayaan dan pemberdayaan dimanapun lokasi mereka. Itulah yang terus PNM upayakan, sejauh mana perusahaan mampu menghadirkan harapan bagi masyarakat bahkan yang berada di wilayah paling sulit dijangkau," jelas Kindari. Di Baduy, harapan itu termanifestasi dalam bentuk yang mungkin terlihat sederhana: modal untuk membeli hasil bumi, menjaga warung tetap berjalan, atau membuat roda usaha terus berputar. Namun, di balik angka tersebut, ada keberanian untuk mencoba, kesempatan untuk bertumbuh, dan keyakinan bahwa akses terhadap pembiayaan tidak seharusnya ditentukan oleh seberapa jauh seseorang tinggal dari pusat kota.
Tiga pencairan pertama di tanah Baduy luar ini bukan sekadar catatan penyaluran pembiayaan. Ia menjadi penanda bahwa ketika ada perempuan yang ingin mengembangkan usahanya, PNM bersedia menempuh jalan yang lebih jauh untuk menemuinya. "Tidak ada wilayah yang terlalu jauh untuk dihadiri PNM memberikan pembiayaan dan pemberdayaan selama masih ada perempuan yang ingin usahanya tumbuh," pungkas Kindari, menegaskan komitmen PNM dalam membangun ekonomi inklusif dari pelosok negeri.
Editor: Rockdisc