Eranusantara.co – Industri hiburan global tengah diguncang oleh manuver besar yang memicu ketegangan hebat di internal perusahaan. Raksasa media asal Amerika Serikat, Paramount Skydance dan Warner Bros. Discovery (WBD), secara resmi telah menuntaskan proses merger setelah berhasil melewati rintangan hukum terkait gugatan antimonopoli di 12 negara bagian melalui jalur negosiasi. Namun, di balik kemegahan kesepakatan bernilai fantastis ini, tersimpan kecemasan mendalam yang memicu "perang dingin" di antara para karyawan.
Langkah penggabungan dua kekuatan besar ini bukan sekadar soal ekspansi bisnis, melainkan juga soal bertahan hidup. Potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal menjadi momok yang menghantui ribuan pekerja dari kedua belah pihak. Situasi ini menciptakan atmosfer kompetisi yang tidak sehat, di mana antarpegawai kini saling bersaing demi membuktikan bahwa peran mereka tidak dapat digantikan, agar terhindar dari daftar pemangkasan karyawan.

Seorang manajer layanan streaming dari pihak Paramount mengungkapkan bahwa persaingan ini akan sangat sengit. Menurutnya, tantangan terbesar muncul karena banyak tim dan insinyur dari kedua perusahaan memiliki fungsi serta keahlian yang sangat mirip. Hal ini membuat manajemen akan kesulitan menentukan tim mana yang paling layak dipertahankan untuk masa depan perusahaan gabungan tersebut.
Kesepakatan akuisisi Paramount terhadap WBD ini menyentuh angka yang sangat fantastis, yakni mencapai US$ 110 miliar atau setara dengan Rp 1.968,56 triliun. Melalui merger ini, entitas baru tersebut akan menguasai aset media kelas dunia seperti HBO, CBS, CNN, TNT, hingga MTV. Di sektor digital, mereka akan mengelola platform streaming raksasa seperti Paramount+, HBO Max, dan Discovery+.
Meski terlihat sangat kuat di atas kertas, CEO Paramount Skydance, David Ellison, mengakui adanya ketidakpastian terkait nasib para pekerja. Dalam memo internalnya, Ellison menyatakan bahwa proses merger diperkirakan rampung dalam dua minggu ke depan. Namun, ia tidak memberikan jaminan mengenai stabilitas posisi karyawan. "Kami belum memiliki semua jawaban, dan saya tidak akan berpura-pura seolah-olah kami memilikinya," tulis Ellison kepada para stafnya.
Tekanan terbesar datang dari janji Ellison kepada para investor untuk melakukan penghematan biaya hingga US$ 6 miliar atau sekitar Rp 107,37 triliun. Target efisiensi ini menjadi sinyal kuat bagi para analis dan karyawan bahwa akan ada tumpang tindih aset yang signifikan. Karena kedua perusahaan memiliki divisi yang serupa—mulai dari tim pemasaran, penjualan iklan, hingga insinyur perangkat lunak—pemangkasan besar-besaran dianggap sebagai konsekuensi logis untuk mencapai target penghematan tersebut.
Kondisi ini telah menciptakan ketegangan nyata di lapangan. Seorang staf senior di divisi streaming WBD bahkan menyebutkan bahwa saat ini sedang terjadi "perang teknologi" internal terkait sistem mana yang akan digunakan oleh perusahaan baru nantinya. Kecemasan ini bukan sekadar rumor, mengingat mayoritas karyawan yang diwawancarai menyatakan kekhawatiran yang sama terhadap masa depan karier mereka di tengah badai merger ini.