EraNusantara – Badan Pusat Statistik (BPS) tengah gencar melaksanakan Sensus Ekonomi 2026, sebuah program vital yang bertujuan memotret kondisi riil perekonomian Indonesia. Sejak Mei lalu, petugas BPS telah menyambangi berbagai lapisan masyarakat, dari rumah ke rumah, untuk mengumpulkan data komprehensif. Namun, di tengah proses pendataan yang masif ini, muncul kekhawatiran di benak publik mengenai potensi kaitan data tersebut dengan kepentingan perpajakan. Menanggapi hal ini, Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, memberikan jaminan tegas.
Amalia menegaskan bahwa Sensus Ekonomi 2026 sama sekali tidak memiliki hubungan dengan upaya penarikan pajak dari masyarakat. "Jangan khawatir, data akan kami jaga kerahasiaannya dan juga kami jamin ini tidak ada kaitannya dengan perpajakan," ujar Amalia usai mendata Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani di kediaman dinasnya di Jakarta Selatan, Jumat (28/8/2026). Pernyataan ini diharapkan dapat menepis keraguan dan mendorong partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat.

Menurut informasi dari laman resmi BPS, Sensus Ekonomi dirancang untuk menyediakan data dasar mengenai seluruh aktivitas ekonomi di 20 kategori usaha, di luar sektor pertanian. Data yang terkumpul akan menjadi landasan krusial bagi pemerintah dalam merumuskan perencanaan dan keputusan strategis. Lebih jauh, hasil sensus ini akan menyajikan gambaran tren ekonomi terkini, membantu pelaku usaha mengidentifikasi peluang baru, serta mengantisipasi berbagai tantangan bisnis.
Nantinya, hasil Sensus Ekonomi 2026 akan diwujudkan dalam beberapa bentuk data penting. Pertama, "Peta Ekonomi Indonesia" yang akan menyajikan struktur ekonomi terkini di seluruh penjuru negeri. Kedua, "Analisis Sektoral" yang akan memuat informasi mendalam per sektor, baik berdasarkan skala usaha maupun wilayah. Ketiga, akan ada "Masukan atau Insight" berupa tinjauan analisis terkait ekonomi lingkungan dan ekonomi digital, memberikan perspektif yang lebih luas.
Pentingnya pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 ini juga ditekankan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Beliau menggarisbawahi urgensi pembaruan data perekonomian Indonesia, mengingat metode dan dasar penghitungan aktivitas ekonomi belum diperbarui selama lebih dari satu dekade. "Kualitas data Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi salah satu penentu akurasi kebijakan dan penyusunan APBN," kata Prabowo dalam Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU Tentang APBN TA 2027 beberapa waktu lalu.
Presiden Prabowo juga secara khusus meminta masyarakat untuk turut serta menyukseskan Sensus Ekonomi 2026 yang melibatkan sekitar 251.000 petugas di seluruh desa di Indonesia hingga akhir bulan ini. Ia kembali menegaskan bahwa data yang dikumpulkan BPS tidak akan digunakan untuk mengejar kekayaan atau pendapatan pribadi masyarakat yang dilaporkan.
"Saya minta agar saudara-saudara sekalian yang mendengarkan saya pada siang hari ini, saya minta agar saudara-saudara tidak hanya mengisi formulir sensus dengan sejujur-jujurnya, tapi juga mengajak semua orang untuk ikut mengisi dengan sejujur-jujurnya. Data yang dikumpulkan BPS dari sensus ekonomi tidak akan digunakan untuk mengejar kekayaan atau pendapatan pribadi yang dilaporkan," tegas Prabowo, memberikan jaminan ganda dari level tertinggi pemerintahan. Dengan jaminan ini, diharapkan masyarakat dapat berpartisipasi tanpa ragu demi data ekonomi yang akurat dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
Editor: Rockdisc