EraNusantara – Guncangan gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) baru-baru ini menyisakan dampak pada infrastruktur vital logistik pangan. Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, mengonfirmasi bahwa sebanyak 12 gudang penyimpanan beras di wilayah tersebut mengalami kerusakan. Namun, ia segera menenangkan kekhawatiran publik dengan menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi hanya pada bagian dinding, memastikan seluruh stok beras strategis nasional tetap aman dan tidak terganggu.
Dari total 46 gudang Bulog yang tersebar di NTT, dengan kapasitas penyimpanan mencapai 50.400 ton, kerusakan yang menimpa 12 gudang tersebut menjadi perhatian utama.

Menanggapi situasi ini, Rizal tidak membuang waktu. Ia segera menugaskan Direktur SDM Perum Bulog untuk terjun langsung ke lapangan dan mengawasi proses perbaikan 12 gudang yang terdampak. "Begitu kerusakan teridentifikasi, kami langsung memberangkatkan Direktur SDM untuk segera mengkoordinasikan perbaikan, khususnya pada bagian dinding gudang-gudang tersebut," jelas Rizal saat ditemui di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Minggu (23/8/2026), menunjukkan komitmen Bulog dalam menjaga ketahanan pangan.
Secara spesifik, Rizal menyoroti kerusakan yang cukup parah di wilayah Ruteng, yang sempat mengurangi kapasitas penyimpanan. Namun, langkah mitigasi cepat telah diambil. Stok beras dari gudang yang terdampak parah telah dipindahkan ke tenda darurat milik BNPB dan TNI. Tidak hanya itu, beras tersebut juga diletakkan di atas palet untuk mencegah kontak langsung dengan tanah dan air, memastikan kualitasnya tetap terjaga. Kepala Cabang Bulog di Ruteng juga diinstruksikan untuk segera menyalurkan beras kepada masyarakat yang membutuhkan.
Rizal kembali menegaskan bahwa ketersediaan beras di NTT, baik saat ini maupun di masa mendatang, berada dalam kondisi aman. Saat ini, stok beras yang tersimpan di seluruh gudang Bulog di NTT mencapai 26.336 ton. Untuk memperkuat cadangan, Bulog telah mengaktifkan program mobilisasi nasional (movnas), dengan mendatangkan tambahan 67.446 ton beras dari berbagai provinsi.
Rincian pasokan tambahan tersebut meliputi 3.000 ton dari Jakarta, 20.646 ton dari Jawa Timur, 8.550 ton dari Sulawesi Selatan/Sulawesi Barat, dan 35.250 ton dari Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dengan integrasi pasokan movnas ini, total cadangan beras Bulog di NTT diproyeksikan mencapai 93.782 ton. "Stok eksisting di NTT sebesar 26.336 ton ditambah dengan movnas 67.446 ton, sehingga total stok kami ke depan akan mencapai 93.782 ton," pungkas Rizal, memberikan gambaran jelas tentang kapasitas Bulog.
Bulog juga telah melakukan perhitungan cermat terhadap kebutuhan beras di NTT, yang diperkirakan mencapai 46.368 ton. Angka ini mencakup berbagai alokasi, termasuk 1.890 ton untuk bantuan bencana alam dan 18.900 ton sebagai antisipasi perpanjangan masa tanggap darurat hingga 10 kali.
Tak hanya itu, Bulog juga menyiapkan pasokan untuk program bantuan pangan Presiden selama tiga bulan ke depan. Dengan alokasi 10 kilogram beras per bulan bagi 852.631 penerima, total kebutuhan untuk program ini mencapai 25.578 ton.
Dengan proyeksi stok sebesar 93.782 ton dan total kebutuhan 46.368 ton, Rizal memastikan bahwa cadangan beras di NTT jauh lebih dari cukup. "Kami memiliki surplus sekitar 47.414 ton setelah memenuhi semua kebutuhan, mulai dari penanganan bencana hingga program bantuan pangan. Ini menunjukkan komitmen kuat eranusantara.co dalam menjaga ketahanan pangan nasional, khususnya di wilayah terdampak," tutupnya, memberikan jaminan kepada masyarakat.
Editor: Rockdisc