EraNusantara – Denyut nadi ekonomi antara Jawa dan Bali sempat terganggu parah. Jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, yang menjadi urat nadi logistik dan mobilitas, dilanda kemacetan luar biasa, dengan antrean kendaraan yang sempat mengular hingga belasan kilometer. Situasi ini memicu kekhawatiran akan dampak terhadap distribusi barang dan jasa. General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ketapang, Media Syahrianto, mengonfirmasi bahwa puncak kepadatan terjadi pada Minggu (6/9), dengan kondisi yang kini berangsur membaik namun masih fluktuatif.
"Di sisi Gilimanuk, ekor antrean sempat mencapai 4-5 kilometer pada Minggu (6/9), namun kini telah jauh berkurang, hanya tersisa beberapa ratus meter di area manuver pelabuhan," jelas Media kepada eranusantara.co, Senin (7/9). Ia menambahkan, "Untuk arah Pelabuhan Ketapang di Jawa Timur, kondisi lebih parah, sempat mencapai belasan kilometer pada Minggu kemarin. Meski demikian, per Senin (7/9) pukul 08.00, antrean berhasil diurai bertahap hingga tersisa sekitar 4,5 kilometer, dengan ekor antrean di sekitar Watudodol."

Media Syahrianto mengidentifikasi dua faktor utama di balik lonjakan kepadatan ini. "Peningkatan signifikan volume kendaraan pengguna jasa di kedua pelabuhan bertepatan dengan adanya pembangunan peningkatan kapasitas dermaga di sisi Gilimanuk maupun Ketapang," ungkapnya. Kombinasi kedua faktor ini, lanjutnya, secara langsung memperpanjang waktu tunggu kendaraan, menyebabkan antrean mengular dan menguji kesabaran para pelaku ekonomi serta pengguna jasa lainnya.
Menanggapi krisis ini, ASDP segera bergerak cepat dengan berkoordinasi intensif bersama seluruh pemangku kepentingan. Langkah-langkah percepatan penguraian antrean pun diambil, antara lain dengan mengoptimalkan pengoperasian kapal-kapal berkapasitas angkut lebih besar pada lintasan Ketapang-Gilimanuk. Bersama Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD), ASDP juga menerapkan pola operasional Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) untuk memangkas waktu layanan kapal di pelabuhan. Tidak hanya itu, rekayasa arus kendaraan juga dilakukan bekerja sama dengan Kepolisian dan stakeholder terkait untuk mengatur lalu lintas di darat.
Guna memastikan kelancaran dan keselamatan, ASDP bersama Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) mempercepat penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) tanpa mengabaikan aspek keamanan. Sebagai bentuk service recovery dan perhatian terhadap pengguna jasa yang terdampak, terutama pengemudi truk yang tertahan di bufferzone Bulusan, ASDP menyediakan makanan berat, makanan ringan, dan minuman. "Kami akan terus mengevaluasi pola operasional yang berjalan dan melakukan penyesuaian apabila diperlukan, dengan tujuan utama mempercepat pelayanan, mengurangi waktu tunggu, serta memberikan kepastian dan kenyamanan yang lebih baik bagi pengguna jasa," tegas Media.
Dalam upaya mitigasi jangka panjang, ASDP juga menyiapkan langkah lanjutan berupa pengoperasian kapal perbantuan KMP Jatra I khusus untuk lintasan Ketapang-Gilimanuk. Selain itu, KMP Portlink direlokasi dari lintasan Tanjung Wangi – Lembar untuk melayani truk tujuan Lombok, guna mengurangi beban di jalur utama. Media Syahrianto juga mengimbau seluruh pengguna jasa untuk "tetap mengikuti arahan dan pengaturan dari petugas di lapangan agar proses penguraian antrean dapat berjalan dengan tertib dan optimal." Terakhir, ia memberikan jaminan penting: "Bagi pengguna jasa yang telah memiliki tiket tetapi belum dapat menyeberang akibat kondisi force majeure ini tidak perlu khawatir tiketnya hangus. Pengguna jasa tetap akan kami layani dan diseberangkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku," pungkasnya.
Editor: Rockdisc