Terkuak! Rp 75 Miliar Mengalir ke NTT, Mentan Beberkan Strategi Ganda Pemerintah Lindungi Pangan Pasca-Gempa: Bukan Sekadar Bantuan Darurat!
EraNusantara – Jakarta. Gelombang bantuan pangan senilai Rp 75,4 miliar, khususnya dalam bentuk beras, kini mulai mengalir deras menuju masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang baru saja didera bencana gempa bumi. Ini bukan sekadar respons cepat, melainkan bagian dari strategi komprehensif pemerintah untuk memastikan ketahanan pangan di tengah krisis yang melanda.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman secara tegas menginstruksikan Perum Bulog untuk segera mengonsolidasikan dan mendistribusikan bantuan ini. Total alokasi mencapai 5.386 ton beras, senilai Rp 75,4 miliar, yang ditujukan untuk empat kabupaten. Menariknya, bantuan ini tidak hanya mencakup alokasi darurat kebencanaan, tetapi juga bantuan pangan reguler yang terus berjalan, menunjukkan pendekatan dua jalur pemerintah.
"Dalam situasi darurat seperti ini, kehadiran negara sangat krusial dan harus bergerak cepat. Kami berkomitmen penuh untuk memastikan seluruh bantuan beras ini tersalurkan dengan baik, guna menopang kebutuhan pangan masyarakat yang tengah berjuang pulih dari dampak gempa di NTT," tegas Amran dalam pernyataan resminya, seperti dikutip eranusantara.co pada Senin lalu.
Empat kabupaten yang menjadi fokus utama penyaluran adalah Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, dan Sikka. Rinciannya menunjukkan strategi yang terukur:
- Kabupaten Manggarai menerima 31,63 ton bantuan darurat bencana dan 1.799 ton bantuan pangan reguler.
- Kabupaten Manggarai Timur mendapatkan 153 ton bantuan bencana dan 1.661 ton bantuan pangan reguler.
- Kabupaten Ngada dialokasikan 8,06 ton bantuan bencana dan 444,21 ton bantuan pangan reguler.
- Sementara itu, Kabupaten Sikka memperoleh 6,88 ton bantuan bencana dan 1.281,36 ton bantuan pangan reguler.
Secara spesifik, alokasi beras untuk bantuan kebencanaan saja mencapai 200,35 ton. Jumlah ini difokuskan untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat yang terdampak langsung dan berada dalam kondisi darurat pangan.
Amran, yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), menekankan pentingnya sinergi. Ia menyatakan bahwa koordinasi intensif antara kementeriannya, Perum Bulog, dan pemerintah daerah terus diperkuat. Tujuannya adalah memastikan bantuan dapat menjangkau setiap lapisan masyarakat yang membutuhkan, termasuk di wilayah-wilayah terpencil yang mungkin mengalami kesulitan akses pasca-bencana.
Lebih lanjut, Amran menjelaskan bahwa dukungan pemerintah tidak berhenti pada fase tanggap darurat. Kebijakan ini dirancang untuk memastikan bahwa bantuan pangan reguler tetap berjalan tanpa hambatan, sehingga masyarakat di area terdampak tetap memiliki akses berkelanjutan terhadap kebutuhan pangan mereka, jauh setelah fase krisis awal berlalu.
"Penanganan isu pangan di tengah bencana tidak boleh hanya bersifat reaktif dan berhenti pada bantuan darurat semata. Kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan masyarakat tetap memiliki akses pangan yang memadai bahkan setelah masa tanggap darurat usai. Oleh karena itu, bantuan kebencanaan dan bantuan pangan reguler kami kawal dan jalankan secara simultan," pungkas Amran, menggarisbawahi komitmen jangka panjang pemerintah.
Editor: Rockdisc