Gejolak Laut China Selatan Ancam ‘Lumpuhkan’ Perdagangan ASEAN! Mengapa Indonesia Jadi Kunci Penyelamat Ekonomi Kawasan?
EraNusantara – Jakarta – Spektrum ketegangan di Laut China Selatan (LCS) kembali menjadi sorotan tajam, memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas sektor perdagangan di seluruh kawasan ASEAN. Menanggapi potensi ancaman ini, Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel, dengan tegas menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur dialog konstruktif antar negara-negara yang berkepentingan. Dorongan ini muncul di tengah percepatan negosiasi Code of Conduct (COC) Laut China Selatan antara negara-negara ASEAN dan Tiongkok, yang diharapkan dapat meredakan tensi dan menjaga harmoni regional.

Gobel, yang juga mantan Wakil Ketua DPR RI, menekankan bahwa perdamaian dan stabilitas adalah fondasi utama bagi kebangkitan dan pertumbuhan ekonomi ASEAN. "Stabilitas kawasan adalah kekuatan ASEAN," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima eranusantara.co pada Jumat (3/7/2026). Ia menambahkan, dengan lingkungan yang damai, perdagangan antar negara anggota dapat berjalan lancar, mendorong kemakmuran bagi seluruh masyarakat di kawasan, termasuk Indonesia. Pentingnya semangat kekeluargaan dalam negosiasi COC juga disoroti, mengingat mayoritas negara yang terlibat memiliki ikatan budaya dan sejarah yang erat.
Sebagai anggota Komisi yang membidangi urusan perdagangan, Gobel sangat memahami betapa krusialnya stabilitas regional untuk menjaga denyut nadi perekonomian. Diskusi mengenai COC sendiri telah memasuki fase pembahasan lanjutan, didorong kuat oleh keketuaan ASEAN. Filipina, sebagai Ketua ASEAN 2026, dilaporkan terus menggenjot upaya penyelesaian COC dengan Tiongkok, melihatnya sebagai kontribusi vital ASEAN terhadap perdamaian, stabilitas, dan keamanan maritim global. Proses ini diharapkan dapat menghasilkan kerangka kerja yang efektif untuk mengelola sengketa di LCS tanpa mengganggu jalur perdagangan internasional yang krusial.
Meskipun Indonesia tidak terlibat langsung dalam sengketa klaim di LCS, peran aktifnya dalam upaya penyelesaian masalah ini tidak bisa diabaikan. Gobel menegaskan bahwa Indonesia terus berupaya membantu, khususnya dengan mempromosikan dialog damai di antara pihak-pihak yang bersengketa. "Bila memang diperlukan, Indonesia siap menjembatani negara-negara ASEAN dengan Tiongkok untuk menemukan titik tengah terbaik dalam menyelesaikan sengketa Laut China Selatan," kata Gobel, menegaskan posisi Indonesia sebagai mediator potensial yang netral dan berintegritas.
Dengan demikian, stabilitas di Laut China Selatan bukan hanya persoalan kedaulatan, melainkan juga urat nadi perekonomian regional. Melalui pendekatan dialogis dan semangat persahabatan, diharapkan ketegangan dapat diredakan, dan potensi ekonomi ASEAN dapat terus berkembang tanpa hambatan, membawa kemakmuran yang berkelanjutan bagi seluruh penghuninya.
Editor: Rockdisc