Eranusantara.co – Kemacetan parah tak terhindarkan di Pelabuhan Gilimanuk, Bali, dan Ketapang, Jawa Timur, setelah aksi blokade pengemudi truk di Pelabuhan Ketapang pada akhir pekan lalu. Antrean panjang kendaraan, terutama truk logistik, dilaporkan mencapai belasan kilometer, menyebabkan lumpuhnya arus penyeberangan vital yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali. Ribuan kendaraan terjebak dalam penantian panjang, menghambat mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
Aksi penyampaian aspirasi oleh sejumlah pengemudi truk tersebut berlangsung di area pintu keluar Dermaga LCM Pelabuhan Ketapang pada Sabtu sore. Blokade ini dipicu oleh dinamika operasional menyusul adanya penyesuaian muatan kapal yang diberlakukan oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Wangi. Penyesuaian ini dilakukan demi keselamatan pelayaran, khususnya terkait pengaturan muatan kapal LCT yang mengangkut truk besar dan sedang.

Keputusan penyesuaian muatan tersebut bukan tanpa alasan. Faktor cuaca ekstrem dan kondisi maritim terkini menjadi pertimbangan utama. Berdasarkan rilis dari BMKG Stasiun Meteorologi Banyuwangi-Pelabuhan Ketapang pada Sabtu pukul 15.00 WITA, terdapat peringatan dini PD1 Waspada mengenai potensi angin kencang dengan kecepatan 10-15 knot dari arah utara, serta arus kuat berkecepatan di atas 1,2 m/s. Kondisi ini sangat berisiko bagi kapal-kapal penyeberangan jika tidak diantisipasi dengan pengaturan muatan yang ketat.
Menyikapi situasi darurat ini, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) segera angkat bicara dan berupaya keras mempercepat pemulihan operasional layanan penyeberangan lintasan Ketapang-Gilimanuk. "Setelah tercapainya kesepakatan bersama, fokus kami adalah mempercepat normalisasi operasional dan mengurai antrean secara bertahap. Kapasitas kapal yang tersedia terus kami optimalkan, termasuk melalui percepatan siklus pelayanan kapal serta pengaturan muatan sesuai karakteristik dan kapasitas masing-masing kapal," ujar Heru, perwakilan ASDP, dalam keterangannya pada Minggu.
Aksi penyampaian aspirasi yang dimulai sekitar pukul 14.15 WIB pada Sabtu itu akhirnya berakhir sekitar pukul 20.00 WIB setelah komunikasi dan mediasi intensif. ASDP bersama sejumlah pemangku kepentingan lainnya, termasuk perwakilan pengemudi truk, menyepakati serangkaian langkah untuk mempercepat pemulihan operasional dan menjaga kelancaran layanan penyeberangan. Salah satu langkah krusial yang disepakati adalah optimalisasi distribusi kendaraan berdasarkan kapasitas dan karakteristik kapal yang beroperasi.
Kendaraan dengan muatan di atas 30 ton kini diarahkan untuk dilayani melalui kapal-kapal LCM, dengan optimalisasi muatan sesuai kapasitas kapal. Sementara itu, kendaraan dengan muatan di bawah 30 ton diarahkan melalui kapal MB 1, 2, 3, dan 4. Pengaturan ini bertujuan untuk memastikan seluruh kapasitas kapal dan fasilitas yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal, sehingga distribusi kendaraan berlangsung lebih efektif dan tidak terkonsentrasi pada jenis kapal tertentu yang dapat memperlambat proses.
General Manager ASDP Cabang Ketapang, Media Syahrianto, menjelaskan bahwa ASDP bersama seluruh pemangku kepentingan terkait juga terus mempercepat siklus pelayanan kapal. Proses ini mencakup percepatan mulai dari sandar, pemuatan, hingga keberangkatan, dengan tetap memprioritaskan kondisi operasional dan standar keselamatan yang ketat. "Kuncinya adalah memastikan seluruh kapasitas yang tersedia dapat digunakan secara optimal. Pengaturan muatan dilakukan sesuai kapasitas kapal, sementara proses pelayanan kapal terus dipercepat melalui koordinasi yang semakin solid antara petugas, regulator, dan operator. Dengan langkah tersebut, antrean diharapkan dapat terus berkurang secara bertahap," jelas Media.
ASDP juga terus berkoordinasi erat dengan asosiasi pelayaran untuk mengoptimalkan jumlah trip dan kapasitas angkut kapal yang tersedia. Di sisi lain, asosiasi pengemudi truk turut berkomitmen untuk mendukung kelancaran operasional dengan mengikuti arahan petugas terkait proses pemuatan kapal dan ketentuan operasional di kawasan pelabuhan. Meskipun demikian, pada Minggu sore, kepadatan kendaraan masih terpantau di kedua sisi lintasan sebagai dampak langsung dari terganggunya operasional pada Sabtu. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya jumlah trip dan terjadinya akumulasi kendaraan pada akses menuju pelabuhan.
Di sisi Ketapang, antrean kendaraan tercatat mencapai sekitar 12 kilometer, sementara di sisi Gilimanuk, antrean mencapai sekitar 3 kilometer dengan ekor antrean terpantau hingga kawasan Pertigaan Cekik. Untuk mempercepat penguraian antrean yang masif ini, ASDP mengoperasikan 25 kapal pada lintasan Ketapang-Gilimanuk. Optimalisasi jumlah trip terus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi operasional, kapasitas kapal, pengaturan muatan, serta aspek keselamatan pelayaran yang tak bisa ditawar.
"Kami memahami bahwa kondisi kepadatan ini berdampak langsung kepada pengguna jasa, khususnya angkutan logistik yang sangat vital bagi perekonomian. Karena itu, percepatan pemulihan menjadi prioritas kami. Seluruh unsur di lapangan terus bekerja untuk memaksimalkan trip, mempercepat siklus pelayanan kapal, dan mengurai antrean secara bertahap. Kami mengimbau pengguna jasa tetap mengikuti arahan petugas agar proses pemulihan dapat berlangsung dengan tertib dan optimal," tambah Media, menekankan pentingnya kerja sama dari semua pihak.
ASDP bersama regulator, operator pelayaran, asosiasi pengguna jasa, dan seluruh pemangku kepentingan terkait akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pola operasi hingga kondisi layanan kembali normal sepenuhnya. Optimalisasi armada dan fasilitas, pengaturan distribusi kendaraan yang cerdas, serta penguatan koordinasi lintas pemangku kepentingan terus dilakukan untuk memastikan layanan Ketapang-Gilimanuk tetap aman dan lancar, sekaligus menjaga kelancaran mobilitas masyarakat dan distribusi logistik pada jalur strategis Jawa-Bali yang tak tergantikan.