EraNusantara – Membangun fondasi bisnis yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan, atau yang dikenal sebagai green business, bukanlah perjalanan yang mulus. Berbagai rintangan menghadang, seringkali dengan karakteristik unik di setiap wilayah. Shana Fatina, seorang ahli energi berkelanjutan sekaligus pendiri Komodo Water, menyoroti sejumlah kendala krusial yang perlu diatasi untuk mendorong pertumbuhan sektor ini di Indonesia.
Dalam diskusi bertajuk ‘Hobi Jaga Bumi, Eh Jadi Profesi’ pada Pertamina Talks Episode 2 di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026), Shana menjelaskan bahwa salah satu hambatan utama adalah kesenjangan informasi, akses, dan peluang untuk mengimplementasikan inisiatif berkelanjutan. Ia menekankan bahwa tantangan yang dihadapi di perkotaan sangat berbeda dengan kondisi di pulau-pulau kecil.

"Tantangannya informasi kali ya. Kesamaan informasi, akses, dan peluang melakukan sesuatu. Karena kalau kita lihat, tantangan melakukan sustainability di perkotaan dan pulau-pulau kecil itu hal berbeda," ujar Shana, sebagaimana dikutip oleh eranusantara.co. Oleh karena itu, diperlukan strategi komprehensif untuk menjembatani kebutuhan dengan ketersediaan pasokan, sekaligus memastikan distribusi yang efektif.
Selain itu, Shana juga mengamati minimnya keterlibatan langsung generasi muda di sektor keberlanjutan. Padahal, menurutnya, kelompok demografi ini memiliki energi dan kreativitas yang tak ternilai untuk merumuskan solusi-solusi inovatif. "Nah kita kurang anak muda yang turun langsung di lapangan untuk mengerjakan sektor suistanibility," tambahnya. Potensi besar ini perlu digali dan diarahkan agar lebih banyak anak muda mau terjun langsung menggerakkan roda ekonomi hijau.
Lebih lanjut, Shana meluruskan persepsi tentang "green jobs." Ia menegaskan bahwa pekerjaan hijau bukan hanya tentang menciptakan profesi baru semata. Esensinya terletak pada transformasi usaha-usaha yang sudah ada agar menjadi lebih ramah lingkungan. "Green jobs ini gimana kita mentransformasikan usaha-usaha yang sudah ada menjadi ramah lingkungan. Yang tadinya lebih banyak mengambil dari lingkungan, sekarang give back ke lingkungan, ke komunitasnya," pungkas Shana. Ini berarti setiap sektor, dari pertanian hingga industri, memiliki potensi untuk beradaptasi dan berkontribusi pada keberlanjutan.
Editor: Rockdisc