EraNusantara – Harga emas dunia mengalami guncangan hebat, anjlok drastis di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi ini, yang memicu gangguan pasokan minyak global dan infrastruktur energi, secara mengejutkan justru menyeret harga logam mulia ini ke level terendah sejak era 1980-an.
Penurunan ini bukan sekadar koreksi biasa. Melansir eranusantara.co, sepanjang perdagangan sepekan terakhir, harga emas global merosot tajam hingga 11%, mencatatkan kerugian terbesar sejak tahun 1983. Jika dihitung sejak awal mula ketegangan AS dan Iran memanas, nilai emas bahkan telah tergerus lebih dari 14%. Padahal, pada tahun 2025, emas sempat mencetak rekor kenaikan tertinggi sejak 1979 sebesar 64% dan menyentuh US$ 5.000 per troy ons pada Januari lalu, sebelum kini tergelincir di bawah US$ 4.500 per troy ons pada Jumat lalu.

Secara tradisional, emas dikenal sebagai aset "safe haven" yang dicari investor di kala ketidakpastian ekonomi, inflasi melonjak, mata uang melemah, atau krisis terjadi. Namun, skenario kali ini menunjukkan anomali. Kenaikan harga energi akibat konflik justru memaksa bank sentral di berbagai negara untuk mengevaluasi ulang prospek suku bunga, yang pada akhirnya memengaruhi daya tarik emas.
Pergerakan harga emas sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter. Gejolak yang terjadi saat ini memicu penguatan dolar AS dan mendorong investor untuk meninjau kembali portofolio mereka. Para pelaku pasar kini memprediksi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan mempertahankan suku bunga stabil sepanjang tahun ini. Data dari CME FedWatch mengindikasikan tidak akan ada penurunan suku bunga lebih lanjut. Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan FOMC sebelumnya, serta proyeksi tidak adanya pemangkasan dalam beberapa bulan ke depan, secara langsung meningkatkan daya tarik instrumen investasi berbasis imbal hasil seperti obligasi.
Tidak hanya The Fed, bank sentral di seluruh dunia juga menyesuaikan kebijakan suku bunga mereka sebagai respons terhadap perang Iran dan gejolak harga energi. Kekhawatiran inflasi yang membayangi mendorong mereka untuk mempertahankan suku bunga atau bahkan menaikkannya, seperti yang dilakukan oleh Reserve Bank of Australia. Kondisi ini membuat emas, yang tidak memberikan imbal hasil, menjadi kurang menarik dibandingkan aset lain.
Sementara itu, dolar AS menunjukkan pemulihan signifikan bulan ini. Penguatan mata uang Paman Sam ini membuat harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor internasional. Sejak dimulainya konflik AS dan Iran, indeks dolar telah melonjak hampir 2%. "Saya rasa dalam penurunan harga emas baru-baru ini, imbal hasil yang lebih tinggi memainkan peran besar," ujar Ekonom Fundstrat, Hardika Singh, seperti dikutip dari eranusantara.co. Emas umumnya diuntungkan saat dolar melemah, karena menjadi lebih terjangkau. Namun, penguatan dolar yang didorong oleh permintaan aset aman, kekhawatiran inflasi, dan prospek suku bunga tinggi, justru mengurangi daya tarik logam mulia ini.
Euforia yang sempat mendorong harga emas melonjak tinggi selama dua tahun terakhir kini mulai mereda. Investor mungkin juga terpaksa menjual kepemilikan emas mereka untuk menutupi kerugian pada aset-aset lain yang lebih berisiko. Momentum kenaikan emas, yang puncaknya terjadi pada tahun 2025, kini menghadapi realitas pasar yang lebih kompleks, di mana faktor makroekonomi dan kebijakan moneter global memegang peranan krusial dalam menentukan arah pergerakannya.
Editor: Rockdisc