EraNusantara – Dunia kembali menahan napas saat Presiden China Xi Jinping melakukan percakapan telepon krusial dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS). Inti dari pembicaraan tingkat tinggi ini adalah desakan tegas Xi agar Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi sebagian besar minyak dunia, tetap terbuka untuk lalu lintas normal. Langkah diplomatik ini menggarisbawahi kekhawatiran global terhadap gejolak di Timur Tengah yang berpotensi mengguncang pasar energi dan stabilitas ekonomi internasional.
Desakan Xi Jinping bukan tanpa alasan. Ia menekankan bahwa keberlangsungan navigasi di Selat Hormuz adalah kepentingan bersama, baik bagi negara-negara di kawasan maupun komunitas internasional secara luas. Pernyataan ini muncul tak lama setelah pertemuannya di Beijing pekan lalu dengan Putra Mahkota Abu Dhabi, di mana ia juga menggarisbawahi pentingnya kepatuhan terhadap hukum internasional. Beijing tampaknya berupaya membangun konsensus regional untuk menjaga jalur perdagangan krusial ini agar tidak semakin memperparah ketidakpastian ekonomi global.

Kekhawatiran China ini beralasan kuat. Kawasan sekitar Selat Hormuz kembali memanas dengan cepat. Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang rapuh kini menghadapi tekanan baru yang signifikan. Pemicunya adalah penyitaan kapal kargo Iran oleh AS, yang kemudian direspons Teheran dengan sinyal keengganan untuk kembali ke meja perundingan damai. Situasi ini memunculkan spekulasi tentang potensi eskalasi yang lebih luas, yang dapat memiliki konsekuensi serius bagi harga minyak dan rantai pasok global.
Bagi China, taruhannya sangat besar. Sebagai pembeli utama minyak mentah Iran, Beijing memiliki kepentingan langsung dalam menjaga kelancaran pasokan dan stabilitas harga. Sejak konflik yang melibatkan AS dan Israel pecah pada Februari, Iran telah membatasi sebagian besar jalur selat bagi kapal-kapal non-Iran. Situasi diperparah pekan lalu ketika Washington memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran, semakin memperketat arus perdagangan dan meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global yang tak terhindarkan.
Dalam konteks yang penuh ketegangan ini, China secara konsisten menyuarakan dukungan bagi negara-negara Timur Tengah untuk menentukan masa depan mereka sendiri, sekaligus mendorong perdamaian dan stabilitas jangka panjang. Beijing menyerukan gencatan senjata yang segera dan menyeluruh, serta menekankan bahwa penyelesaian konflik harus dicapai melalui jalur politik dan diplomatik. Kementerian Luar Negeri China juga mendesak semua pihak untuk mematuhi kesepakatan gencatan senjata demi menghindari dampak yang lebih parah pada ekonomi global yang sudah rentan.
Editor: Rockdisc