EraNusantara – Menteri Perdagangan RI (Mendag) Budi Santoso, yang akrab disapa Busan, baru-baru ini menyuarakan komitmen kuat pemerintah dalam memacu ekspor jasa Indonesia yang memiliki potensi besar. Kunjungan Mendag Busan ke sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kudus, Jawa Tengah, pada Kamis (12/3), menjadi sorotan utama, menandai upaya serius mendorong potensi ekonomi kreatif dari bangku sekolah menuju pasar global.
Dalam lawatannya ke SMK Raden Umar Said (RUS), salah satu sekolah mitra Djarum Foundation, Mendag Busan menegaskan bahwa Kementerian Perdagangan (Kemendag) siap menjadi fasilitator utama. "Fokus kami salah satunya adalah mencetak aggregator eksportir," ujar Busan kepada eranusantara.co, Kamis (12/3). Ia menambahkan bahwa tugas aggregator ini adalah memasarkan produk-produk Indonesia agar mampu bersaing di kancah internasional. Kemendag akan membuka jalan bagi siswa dan lulusan melalui presentasi bisnis (pitching), penjajakan bisnis (business matching), hingga kesempatan magang di kantor perwakilan dagang RI di luar negeri, termasuk 33 Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) yang tersebar di berbagai negara.

Busan optimis melihat potensi siswa-siswi di Kudus. "Saya yakin siswa di sini setelah lulus bisa jadi eksportir termasuk untuk produk jasa seperti animasi. Karena siswa sudah terbiasa mengerjakan proyek selama masa belajar di sekolah, saya yakin etos kerja sudah terbentuk. Sehingga lulus dari sini tanpa perlu mencari kerja sekalipun, lulusan justru bisa buka kesempatan kerja," jelasnya, menyoroti kemandirian dan daya saing yang telah tertanam.
Selain SMK RUS, Mendag juga meninjau langsung kegiatan belajar di SMK NU Banat yang fokus pada keahlian tata busana, serta SMK Wisudha Karya yang berspesialisasi di sektor maritim. Ia mengapresiasi fasilitas belajar serta penerapan kurikulum dengan pendekatan berbasis teaching factory yang diterapkan, di mana siswa mengerjakan proyek nyata dan menghasilkan karya bernilai ekonomi sejak dini. "Potensi ekspor jasa kita masih sangat besar, karena belum dieksplor maksimal. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami bagaimana bisa membuka akses lebih luas buat produk-produk jasa," lanjut Busan, sembari menyatakan kekagumannya atas profesionalisme dan kemajuan siswa.
Program Manager Djarum Foundation, Galuh Paskamagma, menjelaskan bahwa model teaching factory ini memungkinkan siswa mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan proyek-proyek pesanan industri atau mengkreasikan produk mereka sendiri untuk kemudian ditawarkan di pasar. "Untuk itu, siswa dituntut untuk memiliki kedisiplinan dalam mengatur waktu agar pekerjaan dapat selesai tepat waktu dengan tetap memperhatikan kualitas sesuai standar industri," kata Galuh. Djarum Foundation telah bermitra dengan 20 SMK di Kabupaten Kudus selama lima belas tahun terakhir, mentransformasi pendidikan dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). "Pasar nasional tentu juga luas, tapi kami ingin terus mendorong agar produk dan jasa siswa-siswa SMK mitra kami dapat akses ke berbagai negara di dunia," tambahnya.
Hingga kini, Djarum Foundation telah memperkuat lebih dari 63.000 lulusan dengan keterampilan praktis di berbagai sektor. Tidak hanya siswa, yayasan ini juga turut meningkatkan kompetensi pengajar serta memberikan sokongan sarana-prasarana yang relevan dengan kebutuhan industri terkini. Hasilnya? "Serapan kerja lulusan kami cukup tinggi, dan sudah tersebar hingga luar negeri. Bahkan, di banyak tempat, lulusan kami bisa mendapatkan gaji hingga empat kali UMR kota di mana ia bekerja karena kualitas serta etos kerja yang dianggap mumpuni," ungkap Galuh, menegaskan dampak nyata dari program ini.
Keberhasilan ini terbukti nyata. Siswa SMK RUS, misalnya, telah mampu terlibat dalam produksi tayangan global, berkolaborasi dengan studio sekelas Disney Junior dan Netflix untuk serial Barbie, Unicorn World, Pororo, dan Cocomelon. Bahkan, kreasi mereka, "Unstring Your Heart", berhasil menjadi nominasi pada the 20th Kansas International Film Festival 2020. Tak kalah, SMK NU Banat juga menorehkan capaian tersendiri, lewat partisipasinya di berbagai kompetisi dan peragaan busana nasional dan internasional. Sekolah ini bahkan sudah memiliki merek fesyen sendiri, ‘Zelmira’, yang diterima luas di pasar, dan kini sedang menjalin kerja sama dengan salah satu jaringan hotel mewah di Jerman untuk produksi produk fesyen bagi klien korporasi.
Kunjungan penting ini turut dihadiri oleh Program Director Djarum Foundation Primadi H Serad, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Bupati Kabupaten Kudus Sam’ani Intakoris, Wakil Bupati Bellinda Putri Sabrina Birton, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi, dan Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur Kemendag Deden Muhammad Fajar Shiddiq.
Editor: Rockdisc