EraNusantara – Kegagalan tim nasional Haiti di kancah Piala Dunia 2026, setelah takluk 0-3 dari Brasil pada putaran kedua Grup C dan sebelumnya 0-1 dari Skotlandia, mungkin tampak seperti berita olahraga biasa. Namun, di balik kekalahan di lapangan hijau yang menjadikan mereka tim pertama yang tersingkir dari ajang bergengsi tersebut, tersembunyi sebuah realitas yang jauh lebih pahit: gempuran krisis ekonomi yang tak kunjung usai. Menurut data resmi dari Bank Dunia, Haiti bukan hanya menyandang predikat sebagai negara termiskin di kawasan Amerika Latin dan Karibia, tetapi juga salah satu yang termiskin di seluruh dunia. Ini adalah gambaran suram yang melampaui sekadar skor pertandingan.
Analisis ekonomi menunjukkan bahwa Haiti telah terperangkap dalam spiral kontraksi ekonomi yang berlangsung selama tujuh tahun berturut-turut, diperkirakan hingga tahun 2025. Kondisi ini dipicu oleh ketidakpastian politik yang kronis dan gelombang kekerasan yang terus meningkat. Akibatnya, hampir seluruh sektor ekonomi negara tersebut mengalami kemerosotan, menyebabkan Produk Domestik Bruto (PDB) riil Haiti anjlok hingga 2,7% pada tahun 2025.

Tekanan inflasi juga menjadi momok yang tak terhindarkan. Pada tahun 2024, rata-rata inflasi di Haiti melonjak hingga 28,3%, meningkat dari 25,8% pada periode sebelumnya. Lonjakan ini didominasi oleh kenaikan drastis harga pangan dan biaya perumahan, yang secara tidak adil memberikan beban terberat bagi rumah tangga berpenghasilan rendah. Di sisi lain, penerimaan pemerintah juga menunjukkan tren penurunan, hanya mencapai 4,8% dari PDB. Angka kemiskinan ekstrem semakin mengkhawatirkan, dengan hampir separuh populasi, tepatnya 49% warga Haiti, diperkirakan hidup dengan kurang dari US$3 per hari pada tahun 2025.
Meskipun demikian, secercah harapan muncul dengan proyeksi pertumbuhan PDB yang moderat pada tahun 2026, asalkan stabilitas keamanan dapat ditingkatkan secara bertahap. Dalam upaya membantu Haiti keluar dari jurang krisis, Bank Dunia telah mengalokasikan portofolio besar senilai US$1,27 miliar melalui 17 proyek. Inisiatif-inisiatif ini mencakup berbagai sektor krusial, mulai dari peningkatan pendidikan dan layanan kesehatan bagi kelompok rentan, penguatan infrastruktur dan kapasitas pemerintah dalam menghadapi bencana alam, perluasan layanan digital di institusi pemerintahan, hingga upaya memperluas akses listrik di wilayah pedesaan. Ini adalah langkah konkret untuk membangun kembali fondasi negara yang rapuh di tengah badai tantangan yang tak henti.
Editor: Rockdisc