EraNusantara – Kabar mengkhawatirkan datang dari sentra produksi pangan di Pulau Sumatera. Bencana banjir yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) telah menorehkan dampak serius, dengan total 70.000 hektare (ha) lahan persawahan dilaporkan terdampak. Angka ini sontak memicu kekhawatiran akan stabilitas pasokan dan produksi beras, komoditas vital bagi ketahanan pangan nasional, di ketiga provinsi tersebut.
Menanggapi situasi ini, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyatakan optimismenya. Ia memperkirakan bahwa kondisi persawahan yang terdampak akan dapat kembali produktif dalam kurun waktu 2 hingga 3 bulan ke depan. Prediksi ini didasarkan pada program pemulihan cepat yang digagas Kementerian Pertanian.

"Memang, dengan luasan yang cukup signifikan, 70.000 hektare ini secara otomatis akan berdampak pada hasil panen masing-masing provinsi maupun kabupaten daerah yang seharusnya diserap menjadi stok beras kami," jelas Rizal dalam media briefing bertajuk ‘Capaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategi 2026’ di Kantor Bulog, Jakarta Selatan, Jumat (2/1/2026). Ia menambahkan, "Namun, kami berharap ini akan segera pulih dalam waktu dekat, karena program dari Pak Menteri Pertanian sangat luar biasa dan segera akan ditindaklanjuti. Mudah-mudahan dalam 2-3 bulan bisa operasional kembali."
Untuk mengantisipasi potensi kelangkaan dan memastikan ketersediaan beras selama proses pemulihan, Bulog telah mengambil langkah proaktif dengan meningkatkan bantuan pasokan beras hingga tiga kali lipat ke tiga provinsi terdampak. Tercatat per 2 Januari 2026, total beras yang telah didistribusikan mencapai 14.227 ton.
"Contohnya, ada kabupaten yang sebelumnya meminta tambahan 1.000 ton, langsung kami tingkatkan stoknya menjadi 3.000 ton di kabupaten tersebut. Ini demi menjamin masing-masing kabupaten/kota tidak mengalami kekurangan pasokan," terang Rizal. "Saat ini, kami masifkan pendorongan-pendorongan tersebut."
Data terkini per Jumat (2/1/2026) menunjukkan stok beras Bulog di Aceh mencapai 75.000 ton, Sumatera Utara 25.781 ton, dan Sumatera Barat 8.527 ton. Angka ini diharapkan dapat menjadi bantalan pengaman sementara bagi kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, sebelumnya telah merinci dampak bencana ini. Dari total 70.000 ha sawah yang terdampak, Sudaryono menjelaskan bahwa tidak semuanya mengalami gagal panen total atau puso.
"Jika yang terdampak itu misalnya 70.000 hektare, sisanya bagaimana? Yang terdampak itu bisa karena akses jalannya putus, atau terendam air namun padinya tidak mati. Tanaman tidak mati, itu namanya terdampak. Tapi kemudian tidak puso," terang Sudaryono di Jakarta Selatan, Rabu (31/12/2025). Ia menegaskan, "Kalau puso itu artinya gagal panen."
Lebih lanjut, Sudaryono memastikan bahwa pemerintah akan memberikan perhatian khusus pada lahan yang mengalami puso, yang diperkirakan mencapai 15.000 hingga 20.000 hektare. Lahan-lahan ini bahkan disebut sudah tidak lagi berbentuk sawah akibat sapuan banjir.
"Nantinya, pemerintah akan turun tangan untuk mencetak ulang sawah-sawah tersebut, mengembalikan bentuknya seperti sediakala. Kami akan menyediakan benih dan alat mesin pertanian (alsintan) secara gratis untuk membantu para petani agar dapat kembali menanam," janji Sudaryono. Komitmen ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan sektor pertanian di wilayah terdampak dan menjaga stabilitas pasokan beras jangka panjang.
(Sumber: eranusantara.co)
Editor: Rockdisc