Eranusantara.co – Masa depan beban finansial proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh kini memasuki babak baru. CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Rosan Roeslani, akhirnya memberikan pernyataan resmi terkait proses pengalihan utang proyek strategis nasional tersebut ke pundak Kementerian Keuangan.
Dalam keterangannya di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rosan menegaskan bahwa proses transisi beban utang tersebut saat ini sedang dalam tahap pengerjaan intensif. Ia menekankan bahwa langkah ini bukan sekadar wacana, melainkan sebuah proses yang terus bergerak maju. "Sudah berjalan, sedang berjalan, sedang berjalan, berjalan," ujar Rosan dengan nada optimis saat ditemui awak media.

Kepastian ini menjadi angin segar bagi publik, mengingat sempat muncul keraguan mengenai keberlanjutan skema pengalihan utang tersebut. Keraguan itu muncul menyusul adanya pergantian kepemimpinan di kursi Menteri Keuangan, dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara. Banyak pihak khawatir perubahan nakhoda di kementerian bendahara negara ini akan menghambat penyelesaian kewajiban finansial proyek kereta cepat tersebut.
Namun, Rosan Roeslani menjamin bahwa transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan tidak akan menjadi penghalang. Ia mengaku telah melakukan koordinasi awal dengan Suahasil Nazara pasca pelantikan. Rosan memastikan bahwa seluruh program strategis yang sedang berjalan, termasuk urusan terkait KCIC, tidak akan mengalami hambatan birokrasi yang berarti.
"Kita sudah berjanji untuk bertemu pada minggu ini, antara Kamis atau Jumat, guna menindaklanjuti beberapa poin penting. Koordinasi ini melibatkan Danantara dan juga Kementerian Investasi. Beliau (Suahasil) juga bergerak sangat cepat dalam merespons hal ini," tambah Rosan.
Secara teknis, skema pengalihan utang ini akan dilakukan melalui mekanisme pengambilalihan seluruh saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Perlu diketahui, PSBI merupakan konsorsium yang memegang kendali saham pihak Indonesia di proyek KCIC. Dalam struktur kepemilikan tersebut, PSBI memegang 60% saham, sementara 40% sisanya dikuasai oleh konsorsium perusahaan asal China sebagai pemodal utama.
Jika dirinci, komposisi pemegang saham dalam PSBI terdiri dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebesar 58,53%, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk sebesar 33,36%, PT Jasa Marga (Persero) Tbk sebesar 7,08%, dan PT Perkebunan Nusantara I sebesar 1,03%.
Senada dengan Rosan, Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, Evita Manthovani, memberikan konfirmasi tambahan. Dalam konferensi pers APBN KITA, ia menyebutkan bahwa saat ini proses pengalihan saham PSBI ke pemerintah melalui Kementerian Keuangan tengah memasuki tahap finalisasi.
"Pengalihan saham PT PSBI ke pemerintah melalui Kementerian Keuangan saat ini masih dalam proses finalisasi. Skema pengalihan tersebut telah ditetapkan dan telah dibahas secara mendalam secara teknis," pungkas Evita. Dengan adanya kepastian ini, pemerintah diharapkan dapat segera menuntaskan struktur permodalan proyek ini demi stabilitas fiskal jangka panjang.