Eranusantara.co – Kabar gembira bagi masyarakat, harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, menunjukkan tren penurunan signifikan dalam dua minggu terakhir. Rata-rata, harga komoditas pangan pokok ini terpantau melorot hingga Rp 400-500 per kilogram. Fenomena positif ini diyakini sebagai dampak langsung dari masifnya penyaluran program bantuan sosial (bansos) pangan oleh pemerintah.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, dalam keterangannya di Pasar Induk Cipinang baru-baru ini, menegaskan bahwa penurunan harga ini utamanya dipicu oleh distribusi bansos beras yang digulirkan secara serentak. Program bantuan pangan ini, yang menyasar kuartal IV tahun 2026 (Oktober-Desember), bertujuan untuk meringankan beban masyarakat sekaligus menstabilkan harga di pasaran.

Lebih lanjut, Rizal menjelaskan bahwa pada periode kuartal IV ini, pemerintah menyalurkan bansos beras sebanyak 10 kilogram per bulan kepada warga yang termasuk dalam desil 1-4. Dengan target 33 juta penerima manfaat, penyaluran dilakukan secara rapel, sehingga setiap penerima langsung mendapatkan total 30 kilogram beras. "Sesuai arahan Bapak Presiden, bantuan pangan beras akan disalurkan dari bulan Oktober, November, dan Desember sejumlah 1 juta ton," kata Rizal. Ia menambahkan bahwa keberadaan bantuan pangan ini, yang telah dimulai sejak Juli-September dan dilanjutkan pada Oktober-Desember, secara signifikan berkontribusi terhadap penurunan harga beras.
Selain itu, Rizal juga memastikan ketersediaan stok beras nasional dalam kondisi aman hingga tahun depan. Pasokan bantuan pangan ini diambil dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang saat ini masih berada di angka 4,8 juta ton. "Stok tersebut siap dialokasikan untuk memperkuat ketersediaan pangan nasional hingga beberapa tahun ke depan," tegasnya, memberikan jaminan kepada publik mengenai stabilitas pasokan.
Tren penurunan harga ini turut dibenarkan oleh Ketua Koperasi Pedagang Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Dedy. Ia merasakan langsung dampak positif ini dari pengiriman beras yang diterimanya dari berbagai daerah. "Dalam dua minggu terakhir, memang terjadi penurunan harga sekitar Rp 400-500, baik untuk beras kualitas medium maupun premium," ujar Dedy. Ia mencontohkan, beras dari Majalengka yang sebelumnya dibeli di kisaran Rp 14.000, kini bisa didapatkan dengan harga Rp 13.600.
Menurut Dedy, penurunan harga ini merata pada jenis beras medium maupun premium di tingkat distributor. Beras medium yang sebelumnya menyentuh Rp 14.000 per kilogram kini melandai ke kisaran Rp 13.500 per kilogram. Sementara itu, beras kualitas premium di tingkat distributor yang sempat berada di harga Rp 15.000 per kilogram, kini turun menjadi Rp 14.500 per kilogram. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa variasi harga masih mungkin terjadi tergantung pada jenis, merek, dan daerah asal beras.
Dedy menjelaskan bahwa intervensi pasokan beras melalui program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dalam bentuk bantuan pangan yang langsung menyasar masyarakat, menjadi faktor utama yang menekan harga dari tingkat hulu. "Kan ada bantuan pangan ya. Kemarin ada rapelan sampai per penerima manfaat itu kan ada tambahan 1 juta ton lagi, jadi 30 kilogram per penerima manfaat. Itu lumayan berdampak," jelasnya. Selain intervensi pemerintah, masuknya pasokan beras dari berbagai wilayah yang mulai panen seperti Indramayu, Majalengka, Sragen, hingga Ngawi, turut memperkuat ketersediaan stok di Pasar Induk Cipinang, sehingga suplai melimpah dan harga cenderung turun.
Pedagang beras PIBC lainnya, Anto, juga mengamini dampak penyaluran bansos beras hingga 30 kilogram per penerima manfaat terhadap penurunan harga di tokonya. "(Harga beras turun) kurang lebih Rp 500 per kilogram. Dari biasa medium itu kemarin Rp 14.000, sekarang paling Rp 13.500. Terus untuk premium kemarin sudah sempat Rp 15.000, turun ke Rp 14.500. Cuma itu di tingkat distributor ya, belum tingkat pengecer," terang Anto, memberikan gambaran jelas mengenai kondisi harga di lapangan.