<strong>Eranusantara.co – > Pemerintah Indonesia tengah mengambil langkah agresif untuk memutus rantai ketergantungan terhadap impor susu melalui penguatan produksi dalam negeri. Kementerian Pertanian (Kementan) telah menetapkan target ambisius untuk menambah populasi sapi perah indukan sebanyak 600 ribu ekor hingga tahun 2029. Langkah strategis ini diambil guna memastikan ketersediaan susu nasional yang mandiri dan berkelanjutan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa prioritas utama pemerintah saat ini adalah mendorong produktivitas peternak lokal. Menurutnya, jika peternak domestik mampu memenuhi permintaan pasar, maka kebijakan impor tidak lagi diperlukan. Pemerintah berkomitmen membangun ekosistem persusuan yang komprehensif, mulai dari penyediaan pakan berkualitas, skema pembiayaan yang mudah, hingga jaminan penyerapan hasil produksi oleh industri.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengungkapkan fakta bahwa saat ini produksi susu segar dalam negeri baru mampu menyuplai sekitar 20 persen dari total kebutuhan nasional. Angka ini menunjukkan adanya celah besar yang harus segera diisi oleh industri peternakan rakyat. Namun, Agung menekankan bahwa penambahan jumlah sapi saja tidak cukup.
"Kita memang butuh penambahan populasi sapi perah dalam jumlah besar. Namun, yang harus dibangun bukan sekadar jumlahnya, melainkan juga produktivitas, kesehatan hewan, ketersediaan pakan, hingga kepastian pasar bagi peternak," ujar Agung saat mendampingi kunjungan kerja Komisi IV DPR RI di Pasuruan, Jawa Timur.
Untuk mempercepat proses ini, pemerintah menyiapkan berbagai skema dukungan finansial. Peternak akan diberikan kemudahan berupa uang muka pembelian sapi, asuransi ternak, bantuan pembangunan kandang, hingga penyediaan alat perah. Bahkan, sebagian kebutuhan modal dapat diakses melalui skema perbankan agar peternak tidak terbebani biaya awal yang besar.
Di sisi lain, penguatan peran koperasi menjadi kunci dalam menjaga stabilitas rantai pasok. Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, menyatakan bahwa koperasi memiliki posisi strategis untuk menghubungkan peternak kecil dengan industri besar. Dengan koperasi yang kuat, ekosistem persusuan akan lebih terorganisir dan efisien.
Salah satu contoh sukses terlihat pada Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur di Kabupaten Pasuruan. Koperasi ini menaungi lebih dari 2.000 peternak dengan populasi sekitar 8.700 ekor sapi perah, yang mampu menghasilkan sekitar 35 ton susu segar setiap harinya. Keberhasilan ini didorong oleh kemitraan yang sehat antara koperasi, peternak, dan industri pengolahan susu.
Selain masalah populasi dan pasar, ketersediaan pakan tetap menjadi tantangan utama yang harus diatasi. Pemerintah dan para pelaku industri diharapkan dapat berkolaborasi dalam menjamin ketersediaan bahan baku pakan agar produktivitas sapi perah tetap optimal. Dengan sinergi antara pemerintah, koperasi, dan industri, target swasembada susu pada tahun 2030 diharapkan bukan sekadar impian, melainkan kenyataan yang mampu memperkuat ekonomi kerakyatan.