Eranusantara.co – KAI Commuter (KCI) mengambil langkah strategis untuk memperkuat armadanya. Perusahaan operator KRL Jabodetabek ini berencana mengimpor 23 rangkaian kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang, dengan komitmen pendanaan yang sepenuhnya berasal dari sumber daya finansial internal. Keputusan ini diambil untuk menyikapi lonjakan jumlah penumpang yang signifikan dan memastikan kelancaran operasional layanan KRL di masa mendatang.
Wakil Presiden Sekretaris Perusahaan KAI Commuter, Karina Amanda, menjelaskan bahwa pembiayaan untuk pengadaan KRL bekas ini akan diupayakan melalui dana internal PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai induk perusahaan, atau langsung dari kocek KAI Commuter sendiri. Hal ini menegaskan independensi perusahaan dalam memenuhi kebutuhan operasionalnya tanpa bergantung pada suntikan modal negara (PMN) maupun pendanaan dari lembaga seperti Danantara.

"Untuk pembiayaan pengadaan, kami masih akan mengupayakan menggunakan pendanaan dari PT KAI (Persero) dan KAI Commuter," ujar Karina dalam keterangannya kepada media. Ia menambahkan bahwa diskusi terkait total biaya dengan pihak operator KRL di Jepang masih berlangsung intensif. Oleh karena itu, rincian angka pasti mengenai investasi yang dibutuhkan belum dapat diungkapkan ke publik saat ini.
Sebanyak 23 trainset KRL yang diusulkan untuk diimpor ini akan didatangkan secara bertahap. Karina menargetkan bahwa pengiriman rangkaian kereta bekas tersebut dapat mulai dilakukan pada akhir tahun 2026. Armada tambahan ini diharapkan dapat segera memperkuat kapasitas angkut dan meningkatkan kualitas layanan KRL Jabodetabek yang semakin padat.
Kebutuhan akan tambahan armada ini muncul seiring dengan pertumbuhan jumlah pengguna KRL Jabodetabek yang terus melonjak. Data menunjukkan bahwa pada semester I tahun 2026, jumlah penumpang telah tumbuh sebesar 11,3% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini menjadi indikator kuat akan urgensi penambahan unit kereta untuk menjaga kenyamanan dan efisiensi perjalanan jutaan komuter setiap harinya.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, telah memaparkan urgensi impor KRL bekas ini kepada Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Usulan tersebut mendapat restu dari parlemen, membuka jalan bagi KAI Commuter untuk merealisasikan rencana pengadaan ini. Bobby merinci bahwa 23 trainset tambahan tersebut akan terdiri dari dua formasi utama: tujuh rangkaian dengan formasi 12 kereta (SF12) dan 16 rangkaian dengan formasi delapan kereta (SF8). Kombinasi formasi ini dirancang untuk optimalisasi kapasitas sesuai dengan kebutuhan jalur dan stasiun yang berbeda.
Langkah impor KRL bekas ini diharapkan tidak hanya menambah kapasitas angkut secara signifikan, tetapi juga menjadi solusi jangka pendek yang efektif untuk mengatasi kepadatan penumpang sambil menunggu pengembangan dan pengadaan KRL baru di masa mendatang. Dengan komitmen pendanaan mandiri, KAI Commuter menunjukkan kesiapan dan kemandiriannya dalam menjaga keberlanjutan serta peningkatan layanan transportasi publik yang vital bagi masyarakat.