EraNusantara – Di tengah tantangan iklim yang tak menentu, Wonogiri, sebuah kabupaten di Jawa Tengah, menemukan harapan baru. Musim kemarau yang dulunya identik dengan lahan tidur dan ekonomi lesu, kini bertransformasi menjadi musim panen raya berkat "emas hijau": tembakau. Kisah inspiratif ini tak lepas dari kemitraan strategis antara PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) dengan para petani lokal, yang berhasil mengubah nasib ribuan keluarga dan menggerakkan denyut nadi ekonomi daerah.
Kemitraan Sampoerna dengan petani tembakau, yang difasilitasi oleh perusahaan pemasok, menjadi tulang punggung komitmen perusahaan dalam memberdayakan komunitas yang lebih luas di sepanjang rantai nilai pertanian. Hingga saat ini, lebih dari 22.500 petani tembakau dan cengkeh telah merasakan manfaat pendampingan dari Sampoerna, yang mencakup penerapan standar pertanian unggul mulai dari fase penanaman awal hingga masa panen. Melalui program Praktik Pertanian yang Baik (Good Agricultural Practices/GAP) dan Kode Praktik Pekerja Pertanian (Agricultural Labor Practices/ALP), para petani tidak hanya memperoleh peningkatan pengetahuan dan produktivitas, tetapi juga peluang untuk mengembangkan usaha tani mereka secara berkelanjutan.

Program GAP membimbing petani dalam memahami teknik budidaya tembakau yang tepat, mulai dari pembibitan, pengelolaan lahan, pemupukan yang efisien, penggunaan air secara bijak, hingga penanganan pascapanen untuk menjaga kualitas hasil. Sementara itu, ALP memastikan terciptanya praktik ketenagakerjaan yang bertanggung jawab di tingkat usaha tani, termasuk aspek kesehatan dan keselamatan kerja, pencegahan pekerja anak, serta penghormatan terhadap hak-hak pekerja pertanian.
Salah satu potret nyata keberhasilan kemitraan ini adalah Katino (46), warga Eromoko, Wonogiri. Perjalanannya sebagai petani tembakau bermula dari sebuah momen sederhana yang kemudian mengubah pandangan hidupnya. Kala itu, sebagai seorang sopir truk, Katino terinspirasi melihat seorang petani sepuh berusia sekitar 70 tahun yang baru saja menjual hasil panen tembakaunya di sebuah gudang. Pemandangan itu membuka matanya, menunjukkan bahwa kerja keras di sektor pertanian dapat menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Berbekal tekad dan semangat belajar, Katino memutuskan untuk serius menekuni budidaya tembakau pada tahun 2019. Awalnya, ia belajar secara otodidak dari petani lain, sebelum akhirnya mendapatkan pendampingan komprehensif dari Sampoerna melalui salah satu perusahaan pemasoknya. "Dari awal tanam itu kan ada proses pembibitan, saya dikasih tahu cara penyebaran benihnya, cara ngerawat bibitnya harus berapa hari atau berapa jam. Terus diajarin juga cara nyebar yang benar gimana, cara pemupukan pupuk dasarnya gimana, sampai proses penyiramannya pun semua dikasih tahu. Dengan adanya pendamping lapangan, kita yang awalnya dari awal gak tahu apa-apa, sekarang jadi tahu," ungkap Katino dalam keterangan tertulis yang diterima eranusantara.co, Senin (21/9/2026).
Bagi Katino, manfaat pendampingan ini melampaui sekadar pengetahuan teknis; ia juga mengalami perubahan cara pandang dalam mengelola lahan. Ia kini memahami bahwa setiap tahapan budidaya, mulai dari pemilihan benih, penentuan waktu tanam, hingga pemupukan, memiliki dampak signifikan terhadap kualitas dan produktivitas tembakau yang dihasilkan.
Ketertarikan Katino pada tembakau juga tak lepas dari karakteristik iklim Wonogiri. Selama bertahun-tahun, musim kemarau di wilayah ini seringkali membuat lahan menganggur karena minimnya pasokan air. Banyak warga hanya bisa pasrah menunggu musim hujan tiba. Namun, tembakau memiliki keunikan karena tidak membutuhkan banyak air, menjadikannya komoditas ideal yang mampu menjaga lahan tetap produktif dan memberikan nilai ekonomi di musim kering.
Ketekunan Katino membuahkan hasil manis. Sejak tahun 2023, kondisi ekonominya berangsur membaik, ditandai dengan peningkatan pendapatan yang memungkinkannya membeli sebidang lahan sawah baru dan terus mengembangkan usaha taninya. Kini, ia mengelola sekitar 9.000 meter persegi lahan di tiga lokasi, ditambah satu lahan sewa, serta mempekerjakan beberapa buruh tani untuk mendukung pola tanam bergantian pada musim hujan dan musim kemarau.
Pengalaman serupa juga dirasakan Purwanto (34), petani lain di Wonogiri, yang memiliki kisah berbeda dalam menekuni budidaya tembakau. Pola tanam bergantian yang ia terapkan bukan hanya strategi menghadapi cuaca, melainkan juga pendorong peningkatan ekonomi keluarganya. Setelah sempat merantau ke Jakarta dan bekerja di perusahaan swasta, Purwanto memutuskan kembali ke kampung halaman untuk menemani orang tuanya sekaligus mengolah lahan warisan keluarga. Keputusan itu menjadi awal perjalanannya di dunia pertanian, yang kemudian membawanya mengenal budidaya tembakau.
"Saya pulang ketika musim kemarau. Tetangga-tetangga tanam tembakau. Saya mulai belajar ikut menanam. Awalnya tidak banyak, hanya untuk belajar," kenang Purwanto. Dari situ, Purwanto kemudian menjalin kemitraan dengan Sampoerna melalui perusahaan pemasoknya. Menurut Purwanto, pendampingan yang diberikan mencakup seluruh tahapan budidaya, memberikan solusi atas berbagai tantangan di lapangan. "Kita dapat penyuluhan, bimbingan teknis, dan pendampingan untuk penanamannya. Mulai dari pembibitan, penanaman, bahkan sampai pascapanen pun kita masih didampingi oleh petugas lapangan," jelas Purwanto.
Pendampingan tersebut, lanjut Purwanto, membuat proses budidaya menjadi lebih terarah. Ia tidak lagi hanya mengandalkan pengalaman turun-temurun, tetapi juga menerapkan berbagai praktik budidaya yang direkomendasikan melalui program kemitraan. Pendekatan ini membantunya memahami cara menjaga kualitas tanaman sejak awal hingga panen, sehingga hasil yang diperoleh menjadi lebih konsisten dan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.
Kemitraan yang Mendorong Kesejahteraan Petani
Sama seperti Katino, Purwanto merasakan dampak positif program kemitraan dalam membantu perencanaan keuangan rumah tangga. Hasil penjualan tembakau memberikan ruang bagi keluarganya untuk mempersiapkan musim tanam berikutnya dengan lebih baik, termasuk untuk budidaya padi yang tetap menjadi bagian penting dari usaha taninya. "Kalau sekarang, sebagian hasilnya bisa kami sisihkan untuk modal musim tanam berikutnya. Jadi kebutuhan untuk pupuk, padi, maupun tembakau bisa dipersiapkan lebih awal," terang Purwanto.
Ketekunan Purwanto juga telah membuahkan hasil nyata pada ekonomi keluarga. Rumah orang tuanya yang semula berdinding kayu seadanya kini telah menjadi rumah tembok yang lebih layak huni. Bukan hanya keluarganya, hasil panen tembakau juga telah membantu banyak keluarga lain di Wonogiri serta mendukung perputaran roda perekonomian daerah. "Setelah panen tembakau, ada yang beli mobil keluarga buat disewain. Ada juga yang beli mobil jasa angkut barang," imbuhnya.
Dampak positif ini, menurut Purwanto, turut mengubah pilihan hidup warga di desanya. Kemitraan tembakau yang memberikan manfaat ekonomi mendorong lebih banyak masyarakat untuk tetap tinggal dan mengembangkan usaha di kampung halaman, dibandingkan mencari peluang di daerah lain.
Dari kisah Katino dan Purwanto, tembakau menjadi lebih dari sekadar komoditas musiman. Di tangan para petani Wonogiri, tembakau telah menghadirkan harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga dan masyarakat sekitar, sekaligus tetap menjaga kontribusi terhadap ketahanan pangan melalui pengelolaan lahan pertanian yang berkelanjutan. Mereka adalah pahlawan lokal yang tidak hanya menumbuhkan kesejahteraan, namun juga menggerakkan roda ekonomi daerah dengan semangat dan inovasi.
Editor: Rockdisc