EraNusantara – Pemerintah melalui Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengambil langkah cepat dan tegas merespons gejolak yang dialami peternak rakyat. Dalam upaya menjaga keberlangsungan usaha dan menekan biaya produksi, Mentan memastikan harga pakan akan stabil hingga akhir tahun serta mewajibkan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menyerap telur hasil produksi peternak.
Keputusan strategis ini lahir setelah Amran secara langsung mendengarkan aspirasi dan keluhan para peternak dari berbagai daerah dalam Rapat Koordinasi Perunggasan yang diselenggarakan di Surabaya, Jawa Timur, pada Selasa (11/8). Peternak saat ini menghadapi tekanan berat akibat tingginya biaya produksi, terutama pakan, yang tidak sebanding dengan harga jual hasil ternak mereka.

"HPP (Harga Pokok Produksi) untuk harga telur akan kita jaga, namun harga pakan juga harus kita kendalikan agar tidak terlalu tinggi. Jangan ada pihak yang mengambil kesempatan dalam kesempitan," tegas Amran dalam keterangan tertulis yang diterima eranusantara.co. Ia menjelaskan, di sisi hulu, pemerintah berkomitmen menahan laju kenaikan harga pakan ayam, sebuah komponen vital yang sangat memengaruhi biaya operasional peternak.
Namun, Amran menyadari bahwa biaya produksi yang terkendali saja tidak cukup jika hasil produksi peternak tidak terserap dengan harga yang layak. Oleh karena itu, di sisi hilir, ia memastikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program MBG wajib menyerap telur sesuai ketentuan dan petunjuk teknis yang telah ditetapkan. Langkah ini diharapkan dapat memberikan kepastian pasar dan memperkuat rantai pasok produk peternakan bagi peternak rakyat di seluruh Indonesia.
Lebih lanjut, Mentan juga mendorong peningkatan konsumsi telur melalui program MBG. Ia menyebut, penggunaan telur dalam menu MBG berpeluang besar untuk ditingkatkan, dari yang semula satu kali menjadi dua, bahkan tiga kali dalam sepekan. "Insyaallah harga telur kita jaga di tingkat SPPG. Dan jika konsumsi bisa ditingkatkan, ini akan sangat membantu," imbuh Amran, menekankan bahwa perluasan konsumsi telur tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat tetapi juga memperkuat pasar bagi peternak.
Respons cepat ini, menurut Amran, diambil karena menyangkut hajat hidup 3,8 juta peternak rakyat di seluruh Indonesia. "Apa mau kita biarkan mereka berteriak setiap hari? Ini tugas kami. Begitu kami mendengar ada riak dan aksi protes di beberapa daerah, kami langsung rapat di Surabaya, tidak menunggu lagi rapat di Jakarta," pungkasnya, menunjukkan komitmen pemerintah untuk hadir dan memberikan solusi konkret bagi para peternak.
Editor: Rockdisc