EraNusantara – Di tengah sorotan dunia akan laju pertumbuhan ekonominya yang memukau, India, salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di antara kelompok ekonomi besar, kini menghadapi dilema fiskal yang mendalam. Untuk mengatasi defisit anggaran yang terus membengkak selama beberapa tahun terakhir, pemerintah New Delhi mengambil langkah drastis: melepas sebagian kepemilikan saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ke publik.
Langkah ini, seperti dilaporkan CNBC pada Sabtu (8/8/2026), diambil di tengah tekanan inflasi dan kendala fiskal yang berpotensi menghambat laju pengeluaran pemerintah. Demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tetap berjalan di tengah defisit fiskal yang semakin melebar, India memutuskan untuk mendivestasi saham di berbagai perusahaan milik negara.

Sejak awal tahun, pemerintah India telah melepas saham di 10 perusahaan, meskipun kondisi pasar saat ini sedang lesu. Beberapa nama besar yang sahamnya telah dilepas antara lain Cochin Shipyard, Indian Railways Finance Corp, NHPC, dan Coal India. Aksi korporasi ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mencari sumber pendanaan alternatif.
Terbaru, India sukses menyelesaikan penjualan 6,5% saham di perusahaan asuransi jiwa terkemuka, Life Insurance Corporation of India (LIC). Dari transaksi ini, pemerintah berhasil meraup dana sekitar US$ 3,3 miliar, atau setara dengan kurang lebih Rp 59,06 triliun. Penjualan saham LIC ini bahkan dihargai dengan diskon 10% untuk menarik minat investor di pasar saham India, sehingga tidak mengherankan jika penawaran pembelian melebihi target yang ditetapkan.
Menurut Prime Database, penyedia intelijen pasar di India, secara keseluruhan, aksi penjualan saham BUMN yang dilakukan India telah berhasil mengumpulkan lebih dari US$ 6,5 miliar, atau sekitar Rp 116,33 triliun. Angka ini merupakan salah satu pengumpulan dana tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir. Para ahli memprediksi bahwa pemerintah India berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tahunan penggalangan dana sebesar 800 miliar rupee, atau setara dengan US$ 8,4 miliar (sekitar Rp 150,33 triliun), melalui berbagai penjualan saham BUMN.
Dana yang terkumpul ini dinilai krusial bagi India yang sedang menghadapi tantangan ekonomi makro yang semakin berat. Hingga saat ini, India telah memenuhi lebih dari 65% dari target divestasi tahunannya.
Anubhuti Sahay, Kepala Riset Ekonomi India di Standard Chartered Bank, menilai strategi pemanfaatan hasil divestasi ini sebagai langkah yang sangat tepat. "Memanfaatkan hasil divestasi adalah strategi yang sangat bagus," ujarnya. Sahay menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun, India jarang memenuhi target divestasi saham perusahaan milik negara karena pemerintah berada dalam situasi fiskal yang relatif ‘nyaman’. Namun, kini dengan risiko penurunan pendapatan dan potensi peningkatan pengeluaran akibat beban subsidi yang lebih tinggi, situasi telah berubah.
"Saat ini, penjualan saham tersebut seperti memanfaatkan ‘aset berharga keluarga’ pada saat dibutuhkan," pungkasnya, menggambarkan urgensi dan signifikansi langkah divestasi ini bagi keberlanjutan fiskal India.
Editor: Rockdisc