Eranusantara.co – Raksasa industri kopi dunia, Starbucks, tengah mengambil langkah drastis dalam upaya menyelamatkan performa bisnisnya. Perusahaan kedai kopi paling ikonik di dunia ini mengumumkan rencana untuk menutup sekitar 250 gerainya dalam waktu dekat. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi restrukturisasi besar-besaran guna memulihkan kondisi finansial perusahaan yang tengah menghadapi tantangan berat.
Penutupan massal ini rencananya akan difokuskan pada gerai-gerai yang memiliki kinerja buruk, terutama yang berlokasi di wilayah Amerika Serikat bagian Utara. Meski angka 250 gerai terdengar sangat besar, jika dibandingkan dengan total 18.000 lokasi yang dimiliki Starbucks di seluruh Amerika Utara, jumlah ini hanya mencakup sekitar 1% dari total aset mereka. Namun, dampak finansial dan sosial dari keputusan ini dipastikan tidak main-main.

Dalam keterangan resminya, pihak manajemen Starbucks menjelaskan bahwa keputusan pahit ini diambil setelah melalui evaluasi mendalam. Perusahaan menyebutkan bahwa gerai-gerai yang terdampak tidak lagi mampu memberikan pengalaman yang sesuai dengan standar kualitas mereka bagi pelanggan maupun mitra kerja. Selain itu, faktor ketidaklayakan secara finansial menjadi alasan utama mengapa lokasi-lokasi tersebut harus segera dihentikan operasionalnya.
Berdasarkan laporan regulasi terbaru, Starbucks diperkirakan harus merogoh kocek sangat dalam untuk menanggung biaya restrukturisasi ini. Total dana yang harus dikeluarkan mencapai US$ 300 juta atau setara dengan Rp 5,37 triliun. Dari total biaya tersebut, sekitar US$ 200 juta dialokasikan khusus untuk biaya pemutusan kontrak sewa tempat lebih awal serta pemberian pesangon bagi para karyawan yang terdampak. Hal ini memicu kekhawatiran akan adanya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di wilayah tersebut.
Hingga saat ini, Starbucks belum merilis daftar lengkap mengenai lokasi mana saja yang akan segera gulung tikar. Namun, perusahaan berjanji akan segera memasang pengumuman resmi di setiap gerai yang terdampak pada akhir pekan ini. Informasi mengenai status operasional gerai juga akan diperbarui secara berkala melalui aplikasi seluler resmi mereka agar pelanggan tidak kecewa saat berkunjung.
Chief Operating Officer (COO) Starbucks, Mike Grams, dalam suratnya kepada seluruh karyawan, mencoba memberikan optimisme di tengah situasi sulit ini. Ia menegaskan bahwa perusahaan tetap melihat peluang pertumbuhan jangka panjang yang sangat besar di pasar Amerika Utara. Grams juga menjamin bahwa meskipun ada penutupan, Starbucks tetap berkomitmen untuk melakukan ekspansi dengan membuka kedai-kedai baru di lokasi yang dianggap lebih strategis secara bisnis.
Meski demikian, ambisi ekspansi ini tampaknya mengalami sedikit hambatan. Target pembukaan gerai baru secara global pada tahun fiskal ini diperkirakan hanya mencapai 440 lokasi, angka yang lebih rendah dibandingkan target awal perusahaan yang semula mematok angka 600 hingga 650 lokasi baru.
Langkah ini merupakan bagian dari transformasi besar di bawah kepemimpinan CEO Starbucks, Brian Niccol. Sejak menjabat, Niccol terus berupaya merombak model bisnis perusahaan agar kembali ke jalur pertumbuhan yang positif. Upaya tersebut mencakup renovasi gerai, peningkatan kualitas layanan, hingga penyederhanaan menu agar lebih efisien. Penutupan gerai ini menjadi bukti nyata betapa kerasnya upaya Starbucks untuk memangkas inefisiensi demi menjaga keberlangsungan bisnis di masa depan.