Eranusantara.co – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan tengah melakukan langkah strategis untuk mengangkat komoditas lokal Nusa Tenggara Barat (NTB) ke kancah internasional. Melalui optimalisasi peran Special Mission Vehicle (SMV), Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) kini fokus mendorong pemberdayaan kemiri NTB agar mampu menembus pasar global secara berkelanjutan.
Program ambisius bertajuk "Pemberdayaan Komoditas Desa Devisa Kemiri Nusa Tenggara Barat yang Berkelanjutan dan Berorientasi Ekspor" ini resmi diluncurkan di Mataram pada Kamis (24/9). Inisiatif ini merupakan wujud nyata sinergi antar-lembaga di bawah naungan Kementerian Keuangan untuk memberikan nilai tambah ekonomi langsung kepada masyarakat di pelosok daerah.

Dalam program ini, cakupan wilayah kerja menjangkau 40 desa dengan melibatkan sekitar 350 petani binaan. Dengan total luas lahan mencapai 7.836 hektare, proyeksi produksi kemiri diharapkan mampu menyentuh angka 120 ton per tahun. Transformasi yang dilakukan tidak hanya berhenti pada proses penanaman, tetapi mencakup modernisasi pascapanen hingga pengembangan produk turunan seperti minyak kemiri dan briket.
Menteri Keuangan RI, Suahasil Nazara, menekankan bahwa pengembangan potensi daerah adalah kunci utama pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menegaskan bahwa pemerintah pusat berperan sebagai enabler atau penggerak agar daerah tidak sekadar menjadi penonton, melainkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi.
"SMV hadir untuk menginisiasi, memperkuat kapasitas, membangun ekosistem, dan membuka akses. Setelah modelnya terbentuk, Pemerintah Daerah bersama masyarakat diharapkan dapat melanjutkan dan memperbesar skalanya," ujar Suahasil dalam keterangan resminya.
Kolaborasi ini melibatkan delapan SMV dengan peran yang sangat spesifik. LPEI fokus pada pengolahan pascapanen, PT PII memperkuat kapasitas petani, sementara PT SMI fokus pada penyediaan bibit. Dukungan infrastruktur diberikan oleh PT SMF untuk sentra produksi, PT Geo Dipa Energi melalui penggunaan panel surya, serta PT Karabha Digdaya untuk pengelolaan pascapanen. Sementara itu, IIF dan PT Sejahtera Eka Graha bergerak di pengembangan produk turunan seperti briket dan minyak kemiri.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menyambut baik kolaborasi ini. Ia berharap kemiri tidak lagi dijual dalam bentuk mentah, melainkan produk olahan yang memiliki nilai jual tinggi. "Kolaborasi ini penting agar pengembangan tidak berhenti pada produksi saja, tetapi terhubung dari hulu hingga hilir agar mampu menjangkau pasar global," kata Iqbal.
Berdasarkan kajian Yayasan Insan Bumi Mandiri, program ini diproyeksikan mampu meningkatkan pendapatan petani sebesar 20-25 persen dan meningkatkan efisiensi produksi hingga 70 persen. Selain itu, nilai ekonomi lokal diperkirakan akan melonjak antara Rp30 miliar hingga Rp40 miliar per tahun.
Potensi pasar kemiri sendiri sangat menjanjikan. Data mencatat nilai ekspor kemiri Indonesia mencapai 9,58 juta dolar AS pada periode Januari-September 2025. Dengan peningkatan kualitas produk, kemiri NTB diharapkan dapat merambah pasar baru seperti Tiongkok, Amerika Serikat, hingga negara-negara Eropa seperti Jerman dan Belanda.