EraNusantara – Di tengah gejolak ekonomi global dan dinamika pasar yang tak menentu, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia justru menunjukkan performa yang sangat impresif pada paruh pertama tahun 2026. Sektor ini terbukti menjadi tulang punggung yang resilien, dengan mayoritas pelaku usaha berhasil mencatatkan peningkatan omzet yang signifikan, membuktikan ketahanan luar biasa di tengah berbagai tantangan.
Temuan ini terungkap melalui Mandiri Business Survey yang dilakukan oleh Mandiri Institute. Survei yang melibatkan 1.269 pelaku UKM di seluruh penjuru Indonesia pada periode Juni-Juli 2026 ini menunjukkan data yang menggembirakan: sebanyak 64 persen UKM melaporkan kenaikan omzet. Angka ini melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 48 persen, sebuah indikator positif bagi perekonomian nasional.

Andre Simangunsong, Head of Mandiri Institute, menyoroti bahwa peningkatan proporsi UKM dengan omzet yang naik ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan nyata dari kemampuan adaptasi dan ketahanan pelaku usaha di tengah berbagai rintangan. "Ini menunjukkan bahwa denyut kegiatan usaha tetap terjaga dan peluang pertumbuhan masih sangat terbuka lebar, seiring dengan roda ekonomi yang terus berputar," jelas Andre dalam keterangan resminya, seperti dikutip eranusantara.co, Jumat (11/9/2026). Ia menambahkan, kemampuan UKM untuk terus berinovasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan pasar adalah kunci keberlanjutan mereka.
Menariknya, pertumbuhan omzet ini tidak hanya didominasi oleh sektor-sektor yang langsung bersentuhan dengan konsumsi masyarakat. Sektor pertanian memimpin dengan 74 persen pelaku usaha melaporkan kenaikan omzet. Disusul kemudian oleh sektor transportasi dan logistik, konstruksi, serta industri pengolahan, yang masing-masing mencatat proporsi 68 persen. Data ini menggarisbawahi peran krusial sektor-sektor produktif dalam menopang kinerja UKM, bukan hanya sektor konsumtif.
Andre menambahkan, kondisi ini mengindikasikan bahwa penguatan kinerja UKM ditopang oleh sektor-sektor produktif yang menjadi bagian integral dari rantai pasok dan ekosistem ekonomi yang lebih luas. "Ini adalah modal berharga bagi UKM untuk mempertahankan momentum positif di paruh kedua tahun 2026. Dengan dukungan ekosistem usaha yang semakin kokoh dan penguatan sektor-sektor produktif, kami yakin UKM dapat terus memanfaatkan ruang pertumbuhan yang ada dan membuka peluang baru di masa depan," tegas Andre, menekankan pentingnya sinergi antara pelaku usaha dan lingkungan pendukungnya.
Memandang ke depan, prospek pertumbuhan UKM di semester II 2026 diperkirakan tetap cerah, sejalan dengan proyeksi aktivitas ekonomi yang stabil. Bank Mandiri, misalnya, optimistis bahwa peningkatan daya beli masyarakat, terutama menjelang kuartal IV 2026 yang biasanya diwarnai oleh berbagai perayaan dan kebutuhan musiman, akan memberikan dorongan signifikan bagi pelaku usaha untuk menggenjot aktivitas bisnis mereka. Momentum ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para pelaku UKM.
Oleh karena itu, penguatan permintaan domestik dan kesinambungan roda ekonomi menjadi dua faktor krusial yang akan terus menopang kinerja UKM hingga penghujung tahun ini, memastikan sektor ini tetap menjadi garda terdepan penopang perekonomian nasional dan sumber harapan bagi jutaan pekerja di seluruh Indonesia.
Editor: Rockdisc