EraNusantara – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, baru-baru ini melontarkan desakan kuat kepada Kementerian Keuangan untuk segera menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang mengatur bea masuk 0% bagi bahan baku plastik. Langkah strategis ini, menurut Airlangga, merupakan jurus ampuh untuk meredam laju inflasi yang kini menjadi sorotan utama pemerintah, mengingat dampak meluas dari kenaikan harga komoditas esensial ini. Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga di kantornya, Kementerian Koordinator Perekonomian Jakarta, pada Selasa lalu.
Airlangga menjelaskan secara gamblang bahwa kenaikan harga plastik memiliki efek domino yang signifikan terhadap inflasi. "Beberapa yang akibat daripada harga packaging yang naik," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kontribusi plastik terhadap inflasi sangat besar karena hampir seluruh produk makanan dan minuman membutuhkan kemasan plastik. Oleh karena itu, percepatan penerbitan PMK ini diharapkan dapat menstabilkan harga produk-produk tersebut di pasaran, memberikan angin segar bagi daya beli masyarakat.

Tak berhenti pada sektor plastik, Airlangga juga menyoroti pentingnya insentif fiskal di sektor transportasi udara. Menurutnya, sektor ini memiliki kontribusi yang cukup signifikan terhadap pergerakan inflasi, terutama terkait biaya logistik dan mobilitas. Berbagai kebijakan insentif, termasuk bea masuk 0% untuk LPG dan suku cadang (spare parts), diharapkan dapat segera berlaku setelah PMK terkait diterbitkan. "Jadi tentu kita berharap dengan demikian ke depan ini bisa kita kendalikan," terang Airlangga, menekankan optimisme pemerintah dalam mengendalikan harga-harga pokok.
Lebih lanjut, Airlangga juga menyinggung kontribusi sektor pangan terhadap inflasi. Jika pada periode sebelumnya kenaikan harga emas kerap menjadi pemicu inflasi, kini fokus beralih pada komoditas pangan yang mudah bergejolak (volatile food). "Yang inflasi tentu kita melihat beberapa komoditas yang bisa mempengaruhi kenaikan inflasi. Kalau di periode yang lalu kan kita lihat emas naik, tapi kita lihat sudah turun," jelasnya. Ia mencontohkan bawang putih sebagai salah satu komoditas yang perlu penanganan serius agar tidak memicu lonjakan inflasi yang lebih tinggi, yang pada akhirnya akan membebani masyarakat.
Dengan serangkaian kebijakan fiskal dan perhatian terhadap berbagai sektor pemicu inflasi ini, pemerintah melalui Kemenko Perekonomian menunjukkan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat di tengah tantangan ekonomi global yang terus berubah. Langkah-langkah proaktif ini diharapkan mampu menciptakan iklim ekonomi yang lebih kondusif dan stabil.
Editor: Rockdisc