EraNusantara – Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman baru-baru ini membuat geger publik dengan pengungkapan praktik curang dalam perdagangan beras. Ia membongkar modus penjualan beras kualitas rendah yang disulap menjadi seolah-olah beras premium, menyebabkan harga di pasaran melambung tinggi jauh di atas nilai seharusnya. Fenomena ini tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga mengancam stabilitas pasokan pangan nasional.
Menurut Amran, temuan ini bukan isapan jempol belaka. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa beras yang dilabeli ‘premium’ tersebut memiliki tingkat pecahan yang sangat tinggi, jauh melampaui ambang batas standar beras premium yang seharusnya hanya sekitar 14%. "Kami menemukan beras dengan tingkat pecahan mencapai 34%, bahkan ada yang hingga 59%," ungkap Amran, dikutip dari eranusantara.co. Ini jelas menunjukkan adanya manipulasi kualitas yang sistematis.

Dengan kualitas serendah itu, Amran menegaskan, harga wajar beras tersebut seharusnya berada di kisaran Rp 8.000 hingga Rp 12.000 per kilogram. Namun, ironisnya, di pasaran beras tersebut justru diperdagangkan dengan harga premium, mencapai Rp 17.000 per kilogram. "Ini bukan lagi oplos, ini sudah nyolong. Beras yang seharusnya seharga Rp 8.000, dijual Rp 17.000," tegas Amran saat meninjau gudang beras Bulog di Karawang, Kamis lalu. Praktik ini menunjukkan betapa liciknya para pelaku dalam meraup keuntungan di atas penderitaan rakyat.
Potensi kerugian akibat praktik manipulasi ini, menurut Amran, sangat fantastis, bahkan bisa menembus angka triliunan rupiah. Ia mencontohkan, jika selisih harga manipulasi mencapai Rp 5.000 per kilogram (dari Rp 12.000 menjadi Rp 17.000) dan dikalikan dengan asumsi konsumsi 2 juta ton, maka kerugian yang diderita masyarakat bisa mencapai Rp 10 triliun. "Ini angka yang sangat besar, merugikan ekonomi secara keseluruhan dan daya beli masyarakat," imbuhnya, menggambarkan dampak serius dari kejahatan pangan ini.
Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian dan Satgas Pangan, tidak akan tinggal diam. Amran menegaskan komitmen untuk terus memberantas praktik curang ini hingga ke akar-akarnya. Sejumlah pelaku telah berhasil diringkus dan kini sedang menjalani proses hukum, sebagai bukti keseriusan pemerintah dalam memerangi mafia pangan yang merugikan hajat hidup orang banyak. Penindakan ini diharapkan menjadi efek jera bagi pihak lain yang mencoba bermain-main dengan kebutuhan pokok rakyat.
Amran menyatakan tidak akan gentar dalam menghadapi para mafia pangan, meskipun harus berhadapan dengan segelintir pihak yang terlibat. Baginya, tindakan tegas ini adalah sebuah keharusan demi melindungi ratusan juta rakyat Indonesia dari praktik yang merugikan. "Mana yang lebih kejam? Menindak 100 atau 1.000 orang mafia, atau membiarkan 256 juta rakyat Indonesia menderita karena ulah mereka?" ujarnya retoris, menekankan bahwa kepentingan mayoritas harus diutamakan di atas segelintir kepentingan pribadi yang merusak.
Editor: Rockdisc