EraNusantara – PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), raksasa pertambangan anggota MIND ID, kembali mengukir jejak di kancah internasional. Kali ini, bukan soal produksi atau nilai saham, melainkan sebuah misi vital yang berpusat pada keselamatan: mengirimkan perwakilan terbaiknya ke ajang bergengsi International Mine Rescue Competition (IMRC) 2026 di Zambia, Afrika. Dari tanggal 25 April hingga 7 Mei 2026, tim penyelamat elit dari Indonesia akan bersaing dengan negara-negara maju, mempertaruhkan nama bangsa di "Olimpiade Penyelamatan Tambang" dunia.
Wisnu Danandi, Corporate Secretary ANTAM, menegaskan bahwa partisipasi ini bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan nyata dari komitmen perusahaan terhadap aspek keselamatan sebagai pilar utama operasional. "Keikutsertaan ANTAM dalam ajang ini merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam mengimplementasikan standar keselamatan kerja yang unggul serta meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia dalam penanganan kondisi darurat di industri pertambangan," jelas Wisnu dalam keterangan resminya yang diterima eranusantara.co pada Rabu (22/4/2026). Ini sekaligus menjadi langkah strategis ANTAM dalam memperkuat standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di sektor pertambangan, sekaligus membawa harum nama Indonesia di mata global.

Delegasi Indonesia yang akan berlaga di Zambia adalah Garuda Mine Rescue Team (GMRT), sebuah tim gabungan yang terdiri dari para ahli tanggap darurat dari berbagai perusahaan pertambangan di Indonesia, di bawah naungan Perhimpunan Tanggap Darurat di Bidang Pertambangan dan Energi Indonesia (PERTAPINDO). Anggota tim elit ini meliputi Yoga Prasetya dari UBPE Pongkor, Fani Farizal dari UBPP Logam Mulia, Laode Maliki dari UBPN Kolaka, serta Mohammad Asril Sarimuddin dari HSSE Kantor Pusat yang juga dipercaya sebagai Pemimpin sekaligus Manajer GMRT. Komposisi tim ini menunjukkan kolaborasi lintas entitas dalam upaya mencapai standar keselamatan tertinggi.
International Mine Rescue Competition (IMRC) sendiri adalah platform global yang menguji kemampuan tim penyelamat tambang dalam menghadapi simulasi darurat yang sangat realistis. Ajang ini, yang sering dijuluki sebagai "Olimpiade Penyelamatan Tambang", tidak hanya berfokus pada evaluasi keterampilan teknis, tetapi juga menjadi sarana vital untuk pertukaran pengetahuan dan penerapan standar global keselamatan tambang. Ini adalah arena di mana inovasi dan praktik terbaik diuji dan dibagikan.
IMRC 2026 akan mempertemukan sembilan negara peserta, termasuk Polandia, Indonesia, Kanada, Australia, Kolombia, Tiongkok, Zambia, Pantai Gading, dan India. Mereka akan berkompetisi dalam berbagai nomor menantang seperti Under Ground Mine Rescue, First Aid, Fire Fighting, Bench Test, dan High Angle Rope Rescue. Setiap kategori dirancang untuk menguji ketahanan, kecepatan, dan ketepatan tim dalam skenario penyelamatan yang kompleks dan berisiko tinggi.
Untuk memastikan kesiapan maksimal, tim GMRT telah menjalani pemusatan pelatihan intensif di Banyuwangi dari tanggal 5 hingga 19 April 2026. Persiapan ini mencakup simulasi berbagai kondisi darurat yang mungkin terjadi di lingkungan pertambangan, mengasah kemampuan adaptasi dan koordinasi tim. Wisnu menambahkan, ajang IMRC juga merupakan kesempatan emas untuk pembelajaran dan pertukaran pengalaman dengan tim penyelamat dari negara lain, yang diharapkan dapat memperkuat praktik keselamatan kerja yang berkelanjutan di lingkungan ANTAM dan industri pertambangan nasional secara keseluruhan.
"ANTAM senantiasa menempatkan aspek keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan sebagai bagian integral dari operasional perusahaan. Upaya peningkatan kapasitas tim tanggap darurat menjadi salah satu langkah strategis dalam memastikan keberlangsungan operasional yang aman dan bertanggung jawab," pungkas Wisnu. Melalui partisipasi ini, ANTAM tidak hanya berharap dapat memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan standar keselamatan pertambangan global, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai negara yang serius dan berkomitmen terhadap praktik pertambangan yang aman dan berkelanjutan di mata dunia.
Editor: Rockdisc