Connect with us

ERA PERISTIWA

Rumah Dinas Walikota Padang Diserang Orang Tak Dikenal

Published

on

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Laporan: Wahyu

Eranusantara, Padang – Rumah dinas Walikota Padang diserang belasan orang tak dikenal. Belasan orang yang menggunakan sepeda motor melintas didepan rumah dinas Walikota Padang, di jl. A. Yani, no 11 Kota Padang, Jum’at, (25/2) dini hari dan melakukan pelemparan menggunakan batu. Aksi merekapun terpantau melalui camera cctv pengawas di Rumdis Wako Padang.

“Mereka berjumlah belasan orang dan menggunakan sepeda motor. Saat melintas, mereka melemparkan batu ke arah rumah dinas, kami belum tau apa motifnya,” ungkap Alex, salah satu petugas piket rumdis Wako Padang ini.

Mendapat informasi, belasan petugas Satpol PP Kota Padang, langsung berjaga di Rumdis Walikota Padang ini. Saat tengah melakukan penjagaan, 4 sepeda motor yang diduga merupakan pelaku pelemparan melintas dengan kecepatan tinggi. Sontak petugas langsung melakukan pengejaran dan berhasil mengamankan dua orang yang diduga sebagai pelaku ini di daerah Khatib Sulaiman.

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ERA PERISTIWA

Belum ada Titik Terang, Tujuh Pengulu Adat Beri Ultimatum Management PKS AMP POM

” Kita akan portal kembali lokasi pengangkutan cangkang. Kami selaku pemilik ulayat tidak akan memberikan toleransi yang kesekian kalinya. Pada intinya Senin depan jawaban yang kami terima adalah diberikan kontrak yang baru,”

Published

on

Laporan : Honest

Agam, Eranusantara.co Tujuah Pengulu Adat di Nagari Persiapan Tapian Kandis Salareh Aie, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat kembali mendatangi pihak Management PKS PT. AMP POM, karena belum adanya solusi atau titik terang tentang penambahan Kontrak Pengangkutan cangkang.

Niniak mamak mendatangi perusahaan tersebut di dampingi oleh anak kemanakan dan berapa tokoh masyarakat Rabu siang (15/6/22). Mereka memberikan ultimatum ke pihak Management untuk segera mengeluarkan kontrak baru, agar dikemudian hari tidak menjadi polemik berkepanjangan.

Sebelumnya, tujuh penghulu adat ini menjelaskan telah ada kontrak yang dibuat oleh perusahaan dengan mereka. Namun akhir-akhir ini telah terjadi miskomunikasi antara pemegang kontrak dengan tujuh penghulu tersebut.

Demikian, mengingat dan menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, maka tujuh penghulu suku di Tapian Kandis sepakat menyampaikan kembali keinginannya pada Manajenen PKS AMP POM untuk dikeluarkan kontrak baru.

” Kita telah memberikan kembali berupa surat pernyataan hasil kesepakatan dari penghulu yang bertujuh. Yang intinya, agar dikeluarkan kontrak baru sesuai telah kami sepakati,” ungkap J. Dt Bandara dan M. Dt Kayo di ruangan Manajer PKS PT. AMP POM (15/6/22).

Dikatakan, J Dt Bandaro dan M.dt Kayo sebagai pemegang ulayat di Tapian Kandis, sikap beberapa waktu lalu tidak mengizinkan satu butirpun cangkang sawit keluar dari PKS PT. AMP POM. Hal tersebut dapat di buktikan.

” Tepat Rabu 15 /6/2022. Dengan telah menggunungnya cangkang, Pihak manajemen PKS AMP POM bermohon pada J Dt Bandaro dan M. DT Kayo untuk membuka portal yang telah dipasang,” ucapnya.

Mengingat dengan menggunungnya cangkang tersebut J. Dt Bandaro dan M.Dt Kayo beserta anak keponakan masih memberikan toleransi untuk membuka portal. Alih-alih ada kesepakatan dengan meneger RO bernama Revi yang di utus PKS PT AMP POM ke lokasi penumpukan cangkang, untuk mencarikan solusi.

Selanjutnya, sekitar jam 12 siang, J Dt Bandaro dan M. Dt Dt Kayo beserta Dt yang lain juga melibatkan beberapa keponakan diundang ke kantor, dan di ruangan meeting PKS untuk menjelaskan lebih rinci apa yang disampaikan di luar areal penumpukan cangakang bersama Revi selaku RO.

Dt Bandaro dan M.dt Dt Kayo memperjelas pernyataannya dengan mengatakan agar Meneger RO Revi bisa menyampaikan ke pihak manajemen tetang kesepakatannya dan harus dituangkan diatas kertas.

Saat itu Revi menjawab saya akan sampaikan pada manajemen hari ini juga, Senin tanggal 20 Juni 2022 yang akan datang, telah ada jawabannya. Sebut RO Revi.

Tentang jawaban Menejer Revi salah seorang anak kemenakan yang hadir dirumah meeting mengatakan kalau hari Senin yang di maksud, pihaknya hanya menerima jawaban kontrak yang minta direalisasikan. ” Bukan hal-hal yang lain lagi,” tegasnya.

Sementara usai pertemuan di ruang meeting, ketika dikonfirmasi awak media Manager RO Revi berjanji akan menyampaikan pada management teratas agar bisa segera menyelesaikan tuntutan Ninik mamak yang bertujuh.

” Selaku pribadi yang di utus oleh manajement teratas tidak bisa memutuskan. Karena saya masih bawahan,” ujar Revi mengakhiri.

Diluar, Tim investigasi kembali Sambangi J Dt Bandaro dan M. DT Dt Kayo. Dua pemilik Ulayat menegaskan, untuk Senin akan datang (20/6/2022) tidak ada lagi kata mufakat. Dengan tidak di Akomodir oleh Manajemen PKS PT AMP POM.

” Kita akan portal kembali lokasi pengangkutan cangkang. Kami selaku pemilik ulayat tidak akan memberikan toleransi yang kesekian kalinya. Pada intinya Senin depan jawaban yang kami terima adalah diberikan kontrak yang baru,” tegas dua penguasa ulayat tersebut.

Menanggapi hal tersebut Zamzami Edward Wadir LSM Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP) Sumatera Barat Mengatakan, seyogyanya perusahan PKS PT AMP POM untuk mengakomodir permintaan tujuh penghulu beserta anak kemenakannya. Perusahaan jangan sampai mengabaikannya.  

Pihak penghulu yang bertujuh bukan yang pertama mengajukan permohonannya, namun sudah berulang kali.

” Kita dari lembaga sosial kontrol menyampaikan agar adanya kebijakan yang dapat menciptakan kastabilan suasana harmonis. Antara masyarakat sekitar dengan perusahan bukan menciptakan kegaduhan pada masyarakat sekitar. Hargai aturan Adat silingka Nagari. Sehingga perusahaan dapat beraktivitas sesuai dengan standar RSPO,” pungkasnya.

Continue Reading

ERA INVESTIGASI

Alami Cacat Pasca Tabrakan, Oknum Pejabat di Agam Diduga Tidak Bertanggungjawab

Published

on

Laporan : Fero

Agam, eranusantara.co – Salah satu oknum pejabat eselon III di Pemerintahan Kabupaten Agam diduga tidak bertanggung jawab lagi setelah sopirnya menabrak pengendara sepeda motor di Jalan Lintas Lubukbasung-Bukittinggi, simpang Lubuk Kumbuak, Lubuk Basung, Kabupaten Agam.

Kecelakaan naas itu terjadi sudah lebih kurang dua bulan yang lalu dan membuat korban cacat dengan kondisi pincang dibagian kaki sebelah kanan, bahkan dibagian selangkangannya terus terasa nyeri.

Setelah dicoba ditelusuri dan dihimpun informasi oleh pihak media online eranusantara.co ke lapangan bahwa didapati keterangan dari masyarakat dan korban bersama keluarga, bahwa hingga kini pertanggungjawaban dari oknum Pejabat saat itu yang menggunai Plat Merah BA 73 T milik Pemda Agam itu tidak ada kejelasan.

Seperti Peristiwa tersebut yang telah di ceritakan oleh yulianani korban tabrakan di Jalan raya oleh mobil plat merah itu bersama keluarga dikediamannya, Rabu 12 Januari 2022 ketika dikunjungi langsung pihak media online eranusantara.co.

Yulianani bersama suaminya Agustiar, menyebutkan, kalau peristiwa tersebut sudah lebih dari dua bulan yang lalu. Dengan kronologis kejadian setelah mengalami tabrakakan dari belakang saat ingin menyebrang jalan pulang di simpang Lubuk Kumbuak, Lubuk Basung.

Disampaikannya bahwa saat itu kendaraan yang menabrak dari arah bersamaan yaitu ke arah Bukittinggi itu ialah mobil berplat merah dan didalam mobil ada ibuk bernama Rozetta yang diketahuinya salah satu pejabat di Pemerintahan Kabupaten Agam selaku Kabag Perekonomian.

” Setelah mengalami kecelakaan, waktu itu istri saya langsung dibawa ke Puskesmas Lubuk Basung, untuk mendapatkan pengobatan. Sehingga dengan kejadian itu mengeluarkan biaya Rp. 19.000 yang dibiayai oleh ibuk Rozetta,” ungkap Agustiar.

Setelah dari puskesmas, Dianya langsung kembali mengunjungi ibuk itu tepatnya di depan Puskesmas untuk mencarikan jalan solusi agar istrinya dibiayai pengobatan untuk lebih lanjut.

” Istri saya merasa kakinya lemah, dan terasa sakit di bagian pinggul karena terhempas akibat tabrakan itu. Saya rencana selanjutnya ingin membawa istri ke tukang urut dan lainnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, jangankan ada perdamaian diantara duabelah pihak, malah ibuk tersebut hanya mau membantu dengan dikasih uang 100 ribu setelah dibayangkannya kalau biasanya sesuai dengan pengalaman berkendara bisa menghabiskan biaya jutaan.

” Dengan begitu saya menolak, dengan sebelum diberikannya uang 100 ribu dan ibuk itu kembali menambahkan uang dengan memberikan tambahan uang 100 ribu lagi,” ucapnya.

Selanjutnya, dengan ditolaknya uang dari ibuk itu, Agustiar mengaku tidak sampai banyak meminta bantuan kepadanya, karena tidak ingin memberatkan siapapun dalam kejadian ini karena sama-sama berkendara dijalan.

” Saya selanjutnya hanya meminta bantu untuk diberikan biaya kelanjutan pengobatan istri 1 juta saja seluruhnya. Tapi setelah diutarakan begitu, malah ibuk tersebut bilang kalau saya bersama istri ingin memerasnya dan bernada agak menghina kalau kami cari hidup dengannya dan terus menyalahi kami atas kejadian kecelakaan ini,” ulasnya.

Selanjutnya kata Agustiar, keesokan harinya dianya mendatangi ibuk Rozetta ke ruang kerjanya dilantai dua yang ada di kantor Bupati Agam, tetapi masih tidak ada titik temu dan kesepakatan.

” Malahan waktu itu ibuk Rozetta tidak mau membantu lagi dengan alasan sudah tertutup hatinya untuk membantu dan menyebutkan saya sombong, karena tidak mau menerima uang yang diberikannya sebanyak 200 ribu, sambil membandingkan pekerjaannya dengan saya yang hanya masyarakat biasa ini,” sebut Agustiar ke awak media mengingat kembali perihal yang di alaminya itu.

Sembari demikian lanjut Agustiar menceritakan, karena tidak ada titik temu waktu itu sehingga, ibuk Rozetta menyuruh dirinya kalau ingin memperpanjang, silahkan melapor atas kejadian kecelakaan itu.

” Saya sebagai masyarakat biasa tentu merasa enggan untuk melapor. Sebab berfikir kalau persoalan ini panjang, tentu nanti saya dalam berusaha mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istri menjadi terganggu. Jadi, intinya saya tidak bisa berbuat banyak,” ungkapnya.

” Sampai kini setelah lebih dua bulan sejak kejadian kecelakaan ini berlangsung, pihak Pemda Agam, dan ibuk Rozetta tidak pernah melihat dan mengunjungi istri saya yang saat ini mengalami cacat dan berjalan sudah pincang,” tambahnya.

Sementara dikonfirmasi ibuk Rozetta yang saat ini baru menjabat sebagai salah satu Inspektur Pembantu Inspektorat di Dinas Inspektorat Kabupaten Agam membantah kalau dianya tidak bertanggung jawab atas kejadian ini.

Akan tetapi, dengan banyak pertanyaan yang diutarakan mengenai peristiwa itu oleh pihak media ke ibuk Rozetta malah menyuruh pihak media untuk tidak membuat berita ini. Karena beralasan kalau informasi berita tersebut tidak update (sudah lama).

” Sebelumnya, Saya sudah menawarkan untuk mengobati. Saya pernah memberi uang 200 ribu untuk pergi ber urut setelah saya sarankan untuk ronsen, dan konsul. Namun suaminya menolak karena ingin meminta uang dengan jumlah banyak,” sebutnya di ruang kerjanya Rabu 12 Januari 2022 dengan nada yang agak kesal ke pihak media online eranusantara.co.

Diakui oleh ibuk Rozetta bahwa memang setelah kejadian tidak ada pernah lagi melihat dan mengunjungi mereka yang pernah mengalami tabrakan dengan mobil dinas BA 73 T waktu saat di Kabag Perekonomian Pemkab Agam.

” Memang tidak ada, karena saya sudah kesal setelah diberikan uang, saran dan masukkan untuk berobat tidak diindahkan dan ditolak, jadi intinya semuanya tidak ada persoalan tentang itu jangan diungkit lagi, karena saya sudah pernah ditegur dan dipanggil oleh bapak Bupati,” tutupnya dengan buru-buru selesai sesi konfirmasi dengan awak media karena ingin memimpin rapat.

Menanggapi itu Zamzami wakil Dirwaster Badan Pembantau Kebijakan Publik (BPKP) Sumatera Barat sangat menyayangkan hal itu sampai terjadi.

Dikatakannya, seharusnya persoalan ini harus cepat disikapi kalau memang ingin punya niat untuk membantu masyarakat yang telah mengalami musibah itu.

” Kita melihat masyarakat tersebut tidak banyak neko-neko dan hanya ingin perhatian dan dibantu untuk pengobatannya pasca kecelakaan. Juga  Pejabat terkait sedang Udin (urusan dinas) dan memakai kendaraan Dinas. Jadi, tolong sebagai pejabat pemerintah agar memperlihatkan konsistensinya,” tegas Zamzami Rabu 12 Januari 2022.

Editor : Honest 

Continue Reading

ERA PERISTIWA

Kalapas Lubuk Basung Jelaskan Kronologis Meninggalnya Napi Narkoba Di Streplsel

Published

on

Laporan : Fero

Agam, Eranusantara.co – Puluhan Wartawan yang bertugas di Kabupaten Agam, Sumatera Barat datangi secara kusus Lapas II B Lubuk Basung, Selasa 11 Januari 2022. 

Kedatangan awak media itu dalam rangka setelah viralnya di Media Sosial perihal meninggalnya salah satu tahanan Narkoba di sel tahanan di Lapas tersebut dikabarkan dengan cara gantung diri. 

Dalam hal ini kedatangan berapa awak media disambut langsung oleh Suroto Kepala Lapas Klas II B Lubuk Basung diruang kerjanya setelah jam shalat Zhuhur.

Kepada wartawan, Kepala Lapas Suroto menjelaskan bahwa Narapidana kasus narkoba yang meninggal bernama Syahrial (34) yang lebih akrab disapa Poron memang bunuh diri dengan melilitkan tali plastik ke leher yang ada di tangannya lalu melilitkan ke pintu sel tahanan.

“ Syahrial alias Poron yang lari dari Lapas sejak Bulan Agustus 2021 terkait kasus narkoba akhirnya kembali ditangkap oleh Polres Agam. Dan sebelum diserahkan ke Lapas, Syahrial alias Poron dibawa ke RSUD untuk di Visum dan kemudian Minggu malam diserahkan ke Lapas untuk diisolasi mandiri,” ujar Suroto.

Kalapas menyebutkan, sebelum dijebloskan ke Lapas, Syahrial sudah banyak mengalami luka memar pada tubuhnya dan luka tembak pada betis kiri.

” Dan pada pagi hari Senin (10/1/2022) ketika di cek oleh penjaga pengamanan Lapas, ternyata Syahrial telah meninggal,” terangnya.

Suroto menambahkan, kejadian atas kematian Syahrial kasus narkoba yang melarikan diri dari Lapas kelas II B Lubuk Basung memang seperti itu adanya dan tidak ada unsur lainnya. 

” Kita mengharapkan agar masyarakat jangan terpancing isu- isu yang tidak benar. Kami bersama anggota keamanan Lapas telah bekerja semaksimal mungkin dengan segala upaya agar para narapidana aman dan nyaman di dalam Lapas. Kita juga memasang alat pengintai atau cctv,” ungkapnya.

Lebih Lanjut pembicaraan Kalapas bahwa hingga saat ini tercatat 295 Narapidana penghuni Lapas kelas II B, Padang Lansano, Lubuk Basung dengan 35 kamar dan 3 Blok. 

Sedangkan untuk menu perharinya untuk satu orang hanya Rp. 20.000,- dan diharapkan tahun depan ada peningkatan anggaran untuk menu. Karena didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

Sementara, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia kata Suroto, Narapidana dibekali dengan berbagai keahlian, seperti montir mobil, motor, bertani dan kerajinan lainnya. ” Dimana keahlian yang dimilikinya untuk masa depan setelah mereka keluar dari Lapas ini,” pungkasnya.

Editor : Honest 

Continue Reading

Trending