Connect with us

ERA HUKUM

Polres Agam Press Release Akhir Tahun, Masih Ada Tren Kasus Yang Menonjol Tahun 2021

Published

on

Laporan : Fero

Agam, Eranusantara – Kapolres Agam AKBP Dwi Nur Setiawan Sik. SH. MH gelar press reales akhir tahun 2021 terkait dengan penyampaian data anev crime indeks tahun 2020-2021 di gedung pertemuan wibisono polres agam, jum’at (31/12/21).

Release akhir tahun yang dihadiri oleh beberapa awak media cetak dan online di kabupaten agam itu, di buka kapolres agam AKBP Dwi Nur Setiawan Sik. SH. MH, didampingi Wakapolres Agam Kompol Syafril, Kasubag Humas Polres Agam AKP. N. Dt. Sati, Kasat Lantas Polres agam Iptu Apriman Sural. SH, beserta jajaran Polres Agam.

Dalam release yang disampaikan kapolres bahwa di wilayah hukum Polres Agam masih terlihat tren peningkatan kasus yang beberapa waktu belakangan ini cukup menonjol di tengah kalangan masyarakat, terutama kasus penipuan naik 100 persen di tahun 2021 sebanyak 4 kasus, dibanding tahun 2020 yang hanya 2 kasus.

Selanjutnya, yang cukup menghebohkan public di Kabupaten Agam yaitu peningkatan kasus pencabulan sebanyak 27 kasus atau naik 80 persen dari tahun 2020 yang hanya 15 kasus, sedangkan kasus perusakan naik 75 persen sebanyak 14 kasus di banding tahun 2020 yang 8 kasus serta beberapa kasus lainnya.

Lebih lanjut yang menarik, di wilayah hukum Polres Agam, kasus-kasus kriminal yang selama ini menonjol, justru mengalami penurunan sepanjang tahun 2021, diantaranya kasus curas yang turun 100 persen dengan nihil kasus dibanding tahun 2020 yang 2 kasus, kasus pembunuhan turun 100 persen dibanding tahun 2020 yang 1 kasus, selanjutnya kasus perkosaan turun 100 persen dibanding tahun 2020 yang terjadi 1 kasus.

Demikian juga kasus narkotika/psikotropika mengalami penurunan sebanyak 20 persen dengan 31 kasus, dibanding tahun 2020 dengan 39 kasus, termasuk kasus curat turun 69 persen dengan 4 kasus dibanding tahun 2020 yang mencapai 13 kasus.

“ Sepanjang tahun 2021 terjadi tren penurunan kasus-kasus menonjol jika dibanding tahun 2020,“ ungkap Kapolres Agam.

Diakui, saat ini terjadi peningkatan beberapa kasus, terutama kasus penipuan, kasus perjudian, kasus pencabulan dan beberapa kasus lain, yang diharapkan menjadi objek perhatian khusus pada kasus-kasus yang terjadi.

Kapolres agam juga menyampaikan untuk wilayah hukum Polres Agam capaian vaksinasi di Wilayah Polres Agam. ” untuk masyarakat per tanggal 31 Desember sudah mencapai 70,48 % dan sisa vaksin Polri sebanyak 64 Dosis”, tutupnya

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ERA INVESTIGASI

Alami Cacat Pasca Tabrakan, Oknum Pejabat di Agam Diduga Tidak Bertanggungjawab

Published

on

Laporan : Fero

Agam, eranusantara.co – Salah satu oknum pejabat eselon III di Pemerintahan Kabupaten Agam diduga tidak bertanggung jawab lagi setelah sopirnya menabrak pengendara sepeda motor di Jalan Lintas Lubukbasung-Bukittinggi, simpang Lubuk Kumbuak, Lubuk Basung, Kabupaten Agam.

Kecelakaan naas itu terjadi sudah lebih kurang dua bulan yang lalu dan membuat korban cacat dengan kondisi pincang dibagian kaki sebelah kanan, bahkan dibagian selangkangannya terus terasa nyeri.

Setelah dicoba ditelusuri dan dihimpun informasi oleh pihak media online eranusantara.co ke lapangan bahwa didapati keterangan dari masyarakat dan korban bersama keluarga, bahwa hingga kini pertanggungjawaban dari oknum Pejabat saat itu yang menggunai Plat Merah BA 73 T milik Pemda Agam itu tidak ada kejelasan.

Seperti Peristiwa tersebut yang telah di ceritakan oleh yulianani korban tabrakan di Jalan raya oleh mobil plat merah itu bersama keluarga dikediamannya, Rabu 12 Januari 2022 ketika dikunjungi langsung pihak media online eranusantara.co.

Yulianani bersama suaminya Agustiar, menyebutkan, kalau peristiwa tersebut sudah lebih dari dua bulan yang lalu. Dengan kronologis kejadian setelah mengalami tabrakakan dari belakang saat ingin menyebrang jalan pulang di simpang Lubuk Kumbuak, Lubuk Basung.

Disampaikannya bahwa saat itu kendaraan yang menabrak dari arah bersamaan yaitu ke arah Bukittinggi itu ialah mobil berplat merah dan didalam mobil ada ibuk bernama Rozetta yang diketahuinya salah satu pejabat di Pemerintahan Kabupaten Agam selaku Kabag Perekonomian.

” Setelah mengalami kecelakaan, waktu itu istri saya langsung dibawa ke Puskesmas Lubuk Basung, untuk mendapatkan pengobatan. Sehingga dengan kejadian itu mengeluarkan biaya Rp. 19.000 yang dibiayai oleh ibuk Rozetta,” ungkap Agustiar.

Setelah dari puskesmas, Dianya langsung kembali mengunjungi ibuk itu tepatnya di depan Puskesmas untuk mencarikan jalan solusi agar istrinya dibiayai pengobatan untuk lebih lanjut.

” Istri saya merasa kakinya lemah, dan terasa sakit di bagian pinggul karena terhempas akibat tabrakan itu. Saya rencana selanjutnya ingin membawa istri ke tukang urut dan lainnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, jangankan ada perdamaian diantara duabelah pihak, malah ibuk tersebut hanya mau membantu dengan dikasih uang 100 ribu setelah dibayangkannya kalau biasanya sesuai dengan pengalaman berkendara bisa menghabiskan biaya jutaan.

” Dengan begitu saya menolak, dengan sebelum diberikannya uang 100 ribu dan ibuk itu kembali menambahkan uang dengan memberikan tambahan uang 100 ribu lagi,” ucapnya.

Selanjutnya, dengan ditolaknya uang dari ibuk itu, Agustiar mengaku tidak sampai banyak meminta bantuan kepadanya, karena tidak ingin memberatkan siapapun dalam kejadian ini karena sama-sama berkendara dijalan.

” Saya selanjutnya hanya meminta bantu untuk diberikan biaya kelanjutan pengobatan istri 1 juta saja seluruhnya. Tapi setelah diutarakan begitu, malah ibuk tersebut bilang kalau saya bersama istri ingin memerasnya dan bernada agak menghina kalau kami cari hidup dengannya dan terus menyalahi kami atas kejadian kecelakaan ini,” ulasnya.

Selanjutnya kata Agustiar, keesokan harinya dianya mendatangi ibuk Rozetta ke ruang kerjanya dilantai dua yang ada di kantor Bupati Agam, tetapi masih tidak ada titik temu dan kesepakatan.

” Malahan waktu itu ibuk Rozetta tidak mau membantu lagi dengan alasan sudah tertutup hatinya untuk membantu dan menyebutkan saya sombong, karena tidak mau menerima uang yang diberikannya sebanyak 200 ribu, sambil membandingkan pekerjaannya dengan saya yang hanya masyarakat biasa ini,” sebut Agustiar ke awak media mengingat kembali perihal yang di alaminya itu.

Sembari demikian lanjut Agustiar menceritakan, karena tidak ada titik temu waktu itu sehingga, ibuk Rozetta menyuruh dirinya kalau ingin memperpanjang, silahkan melapor atas kejadian kecelakaan itu.

” Saya sebagai masyarakat biasa tentu merasa enggan untuk melapor. Sebab berfikir kalau persoalan ini panjang, tentu nanti saya dalam berusaha mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istri menjadi terganggu. Jadi, intinya saya tidak bisa berbuat banyak,” ungkapnya.

” Sampai kini setelah lebih dua bulan sejak kejadian kecelakaan ini berlangsung, pihak Pemda Agam, dan ibuk Rozetta tidak pernah melihat dan mengunjungi istri saya yang saat ini mengalami cacat dan berjalan sudah pincang,” tambahnya.

Sementara dikonfirmasi ibuk Rozetta yang saat ini baru menjabat sebagai salah satu Inspektur Pembantu Inspektorat di Dinas Inspektorat Kabupaten Agam membantah kalau dianya tidak bertanggung jawab atas kejadian ini.

Akan tetapi, dengan banyak pertanyaan yang diutarakan mengenai peristiwa itu oleh pihak media ke ibuk Rozetta malah menyuruh pihak media untuk tidak membuat berita ini. Karena beralasan kalau informasi berita tersebut tidak update (sudah lama).

” Sebelumnya, Saya sudah menawarkan untuk mengobati. Saya pernah memberi uang 200 ribu untuk pergi ber urut setelah saya sarankan untuk ronsen, dan konsul. Namun suaminya menolak karena ingin meminta uang dengan jumlah banyak,” sebutnya di ruang kerjanya Rabu 12 Januari 2022 dengan nada yang agak kesal ke pihak media online eranusantara.co.

Diakui oleh ibuk Rozetta bahwa memang setelah kejadian tidak ada pernah lagi melihat dan mengunjungi mereka yang pernah mengalami tabrakan dengan mobil dinas BA 73 T waktu saat di Kabag Perekonomian Pemkab Agam.

” Memang tidak ada, karena saya sudah kesal setelah diberikan uang, saran dan masukkan untuk berobat tidak diindahkan dan ditolak, jadi intinya semuanya tidak ada persoalan tentang itu jangan diungkit lagi, karena saya sudah pernah ditegur dan dipanggil oleh bapak Bupati,” tutupnya dengan buru-buru selesai sesi konfirmasi dengan awak media karena ingin memimpin rapat.

Menanggapi itu Zamzami wakil Dirwaster Badan Pembantau Kebijakan Publik (BPKP) Sumatera Barat sangat menyayangkan hal itu sampai terjadi.

Dikatakannya, seharusnya persoalan ini harus cepat disikapi kalau memang ingin punya niat untuk membantu masyarakat yang telah mengalami musibah itu.

” Kita melihat masyarakat tersebut tidak banyak neko-neko dan hanya ingin perhatian dan dibantu untuk pengobatannya pasca kecelakaan. Juga  Pejabat terkait sedang Udin (urusan dinas) dan memakai kendaraan Dinas. Jadi, tolong sebagai pejabat pemerintah agar memperlihatkan konsistensinya,” tegas Zamzami Rabu 12 Januari 2022.

Editor : Honest 

Continue Reading

ERA PERISTIWA

Kalapas Lubuk Basung Jelaskan Kronologis Meninggalnya Napi Narkoba Di Streplsel

Published

on

Laporan : Fero

Agam, Eranusantara.co – Puluhan Wartawan yang bertugas di Kabupaten Agam, Sumatera Barat datangi secara kusus Lapas II B Lubuk Basung, Selasa 11 Januari 2022. 

Kedatangan awak media itu dalam rangka setelah viralnya di Media Sosial perihal meninggalnya salah satu tahanan Narkoba di sel tahanan di Lapas tersebut dikabarkan dengan cara gantung diri. 

Dalam hal ini kedatangan berapa awak media disambut langsung oleh Suroto Kepala Lapas Klas II B Lubuk Basung diruang kerjanya setelah jam shalat Zhuhur.

Kepada wartawan, Kepala Lapas Suroto menjelaskan bahwa Narapidana kasus narkoba yang meninggal bernama Syahrial (34) yang lebih akrab disapa Poron memang bunuh diri dengan melilitkan tali plastik ke leher yang ada di tangannya lalu melilitkan ke pintu sel tahanan.

“ Syahrial alias Poron yang lari dari Lapas sejak Bulan Agustus 2021 terkait kasus narkoba akhirnya kembali ditangkap oleh Polres Agam. Dan sebelum diserahkan ke Lapas, Syahrial alias Poron dibawa ke RSUD untuk di Visum dan kemudian Minggu malam diserahkan ke Lapas untuk diisolasi mandiri,” ujar Suroto.

Kalapas menyebutkan, sebelum dijebloskan ke Lapas, Syahrial sudah banyak mengalami luka memar pada tubuhnya dan luka tembak pada betis kiri.

” Dan pada pagi hari Senin (10/1/2022) ketika di cek oleh penjaga pengamanan Lapas, ternyata Syahrial telah meninggal,” terangnya.

Suroto menambahkan, kejadian atas kematian Syahrial kasus narkoba yang melarikan diri dari Lapas kelas II B Lubuk Basung memang seperti itu adanya dan tidak ada unsur lainnya. 

” Kita mengharapkan agar masyarakat jangan terpancing isu- isu yang tidak benar. Kami bersama anggota keamanan Lapas telah bekerja semaksimal mungkin dengan segala upaya agar para narapidana aman dan nyaman di dalam Lapas. Kita juga memasang alat pengintai atau cctv,” ungkapnya.

Lebih Lanjut pembicaraan Kalapas bahwa hingga saat ini tercatat 295 Narapidana penghuni Lapas kelas II B, Padang Lansano, Lubuk Basung dengan 35 kamar dan 3 Blok. 

Sedangkan untuk menu perharinya untuk satu orang hanya Rp. 20.000,- dan diharapkan tahun depan ada peningkatan anggaran untuk menu. Karena didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

Sementara, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia kata Suroto, Narapidana dibekali dengan berbagai keahlian, seperti montir mobil, motor, bertani dan kerajinan lainnya. ” Dimana keahlian yang dimilikinya untuk masa depan setelah mereka keluar dari Lapas ini,” pungkasnya.

Editor : Honest 

Continue Reading

ERA HUKUM

Batasan Dewan Terhadap Dana Pokok Pikiran ( POKIR )

Published

on

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Laporan : Wahyu / RMA

Eranusantara- Padangpanjang –– MESKI Pemilu 2024 masih dua tahun lagi, sejumlah partai politik (parpol) baru mulai bermunculan ke publik.Partai politik baru di setiap pemilu selalu bermunculan silih berganti, datang dan pergi.

Inilah era pemilu liberal yang mana pertarungan politik ditentukan kuantitas, bukan kualitas. Kekuatan partai dikendalikan pasar bebas, bukan lagi ideologi dan jati diri. Kehebatan partai ditentukan cukong dan pesona karisma tokoh tertentu, bukan lagi mekanisme organisasi kepartaian yang berlaku. Kemenangan caleg pun lebih disebabkan kekuatan isi tas, bukan kualitas.

Untuk menunjang kekuatan isi tas menghadapi Pemilu 2024 nanti , disinyalir Anggota Legislatif bermain pada Pokir untuk persiapan tabungan mereka.Prilaku anggota DPRD bermain maupun pengkondisian proyek sudah jelas menyalahi aturan dan masuk tindakan gratifikasi, dengan kata lain melakukan tindak pidana korupsi. 

Dalam UU No 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPD, DPR dan DPRD (terkenal dengan UU MD3), pasal 400 ayat 2, ditegaskan bahwa anggota dewan dilarang main proyek. Pasal 400 ayat 2 itu terkait larangan anggota DPRD melakukan pekerjaan yang ada hubungannya dengan wewenang dan tugas anggota DPRD. Yang juga didukung dengan Undang-Undang (UU) Nomor 27 Tahun 2009 yang mengatur MPR, DPR, DPD dan DPRD, dipasal tersebut, melarang Anggota Dewan main proyek.

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Continue Reading

Trending