EraNusantara – Pemerintah Indonesia tengah merancang strategi inovatif untuk memastikan bantuan sosial (bansos) yang akan disalurkan langsung ke rekening sekitar 50 juta warga pada kuartal I-2027, benar-benar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan. Fokus utama adalah membendung potensi penyalahgunaan dana untuk aktivitas judi online (judol) yang kini meresahkan. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) sekaligus Ketua Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintah, Luhut Binsar Pandjaitan, mengungkapkan rencana pembatasan penggunaan dana ini.
Dalam pertemuan di Kantor DEN, Jakarta Pusat, Kamis kemarin, Luhut menjelaskan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan opsi pemberian kupon atau pembatasan jenis transaksi yang diperbolehkan. Ide ini muncul sebagai solusi untuk mencegah dana bansos dialihkan ke hal-hal yang tidak produktif. "Bagaimana cara memberikan? Tadi sudah diberikan kepada account-nya, tapi juga akan nanti jangan disalahgunakan juga uang itu. Kita masih mikir apakah nanti berikan kupon sehingga tidak boleh judi online. Jadi hanya mungkin bayar listrik, bayar beras, bayar bensin dan segala macam," jelas Luhut, memberikan gambaran mengenai mekanisme yang sedang digodok.

Prioritas penyaluran dana juga akan diarahkan kepada ibu-ibu, dengan asumsi kelompok ini memiliki risiko lebih rendah terlibat judi online dibandingkan kelompok lainnya. "Tapi kita waspadai jangan sampai jadi judol. Makanya uang-uang dana nanti itu akan target pada ibu-ibu. Kalau ibu-ibu lebih sedikit judol lah," tambahnya, menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga integritas program bansos agar benar-benar memberikan dampak positif bagi keluarga penerima.
Luhut menargetkan 50 juta masyarakat dari desil 1-5, yang merupakan kategori termiskin, akan menjadi penerima manfaat program ini. Mengenai sumber pendanaan, ia menyebutkan potensi penghematan dari digitalisasi yang diperkirakan mencapai Rp 1.200 triliun. Angka fantastis ini diharapkan dapat dialokasikan untuk program-program pro-rakyat. "Presiden ingin tadi masalah keadilan itu betul-betul sampai ke bawah, jadi pemerintah hadir di tengah-tengah masyarakat," ujarnya, menggarisbawahi visi keadilan sosial yang ingin dicapai melalui program ini.
Sejalan dengan rencana ini, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menginstruksikan masyarakat untuk memiliki rekening di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI). Rekening ini akan menjadi kanal utama penyaluran berbagai bantuan pemerintah di masa mendatang, memastikan transparansi dan efisiensi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dalam keterangannya kepada eranusantara.co baru-baru ini, menjelaskan bahwa rekening tersebut akan diberikan kepada warga berusia di atas 18 tahun yang belum memiliki akun bank. Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat dan meningkatkan akurasi penyaluran bansos, serta mendorong inklusi keuangan. "Itu supaya nanti setiap bantuan itu betul-betul cepat dan tepat sasaran. Bansos dan lain-lain. Itu rencana Pak Presiden seperti itu kelihatannya," kata Purbaya.
Proses pembukaan rekening ini akan melibatkan sinergi data dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Bahkan, ada kemungkinan setiap pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) akan secara otomatis disertai dengan pembukaan rekening bank, mempermudah akses masyarakat terhadap layanan perbankan dan program bantuan pemerintah. Langkah-langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun sistem penyaluran bansos yang lebih modern, aman, dan tepat sasaran.
Editor: Rockdisc